Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

 

Salam KasihCerita KasihBahasa KasihBuaian KasihSandiwara KasihNuansa KasihObrolan KasihTamu KasihE-Mail Kasih

Untuk
Tampilan Terbaik Gunakan Browser:

Browser Terbaik untuk Situs Ini
Kasih: Kamar Studi Ilmu Humaniora
Kamar Studi Ilmu Humaniora


BAHASA KASIH

Sasindo UNS
Sasindo '92 UNS
Album Foto Sasindo '92
Link Situs Portal Sasindo di Perguruan Tinggi lain

Keterkaitan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif dalam Studi Linguistik Historis Komparatif

Kaswan Darmadi

  1. Pendahuluan
    Secara etimologis, istilah approach di dalam bahasa Indonesia berarti ‘pendekatan’ atau ‘ancangan’, yang kemudian dalam konteks permasalahan tertentu diartikan menjadi ‘cara pendekatan atau ancangan yang digunakan untuk mendekati masalah tertentu.’ Istilah ini digunakan secara luas di dalam ilmu-ilmu sosial, sehingga melahirkan berbagai istilah baru yang terkait dengan istilah itu seperti social approach dan cultural approach (yang digunakan dalam pembangunan sosial budaya), buttom-up approach atau top down approach (yang digunakan dalam konteks pembangunan ekonomi).

    Di dalam konteks linguistik, khususnya linguistik deskriptif, istilah itu biasanya dikaitkan dengan teori linguistik atau aliran linguistik (school of linguistics) yang membimbing di dalam memecahkan masalah tertentu, misalnya pendekatan struktural, pendekatan transformasional, dan sebagainya (periksa Edi Subroto, 1992: 89). Meskipun tidak secara eksplisit, ia tampaknya membedakan pemakain istilah pendekatan dengan istilah metode. Sebaliknya Sudaryanto (1988: 26) cenderung menyamakan antara keduanya, seperti tampak dalam pernyataannya, "dalam pelaksanaan penggunaan metode (ini dapat disebut "pendekatan" atau "approach"), teori diperlukan sebagai pembimbing. Perbedaan itu tampaknya tidak begitu perlu dipersoalkan karena sebagaimana dinyatakan Van Peursen (1989: 13) bahwa ilmu dicirikan oleh metodenya, dan itu juga dapat berarti bahwa ilmu tertentu dicirikan oleh pendekatannya.

    Dalam konteks otonomi studi itulah berikut ini dibicarakan secara berturut-turut mengenai pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif dalam studi linguistik historis komparatif, serta keterkaitan di antara keduanya dalam perspektif penelitian kekerabatan bahasa.

  2. Hakikat Pendekatan Kuantitatif
    Sebagaimana diisyaratkan oleh istilah yang digunakan (pendekatan kuantitatif), pendekatan ini menggunakan cara kerja perhitungan statistik. Pendekatan ini dikenalkan oleh linguis Amerika yang bernama Morris Swadesh pada akhir tahun 1940-an (Crystal, 1987: 331). Model ini disebut juga dengan istilah glotokrologi (glottochrology). Ini bertujuan untuk menentukan usia bahasa yang terkait dengan diferensiasi antara dua bahasa atau lebih. Metode yang lain disebut leksiko statistik (lexico statistics). Ini bertujuan untuk menentukan tingkat kekerabatan antara dua bahasa atau lebih; apakah merupakan sekelompok bahasa sekerabat, apakah merupakan sekelompok dialek dari suatu bahasa, dan sebagainya.

    Metode ini memiliki beberapa asumsi dasar (basic assumtion). Menurut Fernandez (1993: 47-49; 1994: 53-55) ada dua asumsi dasar yang melandasi metode itu. Pertama, Sebagian perbendaharaan kata setiap bahasa cenderung mengalami perubahan jika dibandingkan dengan lainnya. Ini berarti ada kata yang dengan mudah digantikan oleh bentuk yang bukan kata kognat. Ini mengandung implikasi bahwa perubahan kosa kata ini berlaku sama pada semua bahasa. Kosa kata inti mencakup kata ganti, kata bilangan, kata nama bagian badan, dan kata yang merujuk ciri-ciri geografis dan alam sekitar. Kedua, harkat pergantian kosa kata dasar (inti) kurang lebih stabil dan karenanya berlaku sama pada semua bahasa untuk setiap kurun waktu tertentu.

    Adapun Keraf (1991: 123-124) dalam versi agak berbeda yang pada hakikatnya sama menyatakan bahwa ada empat asumsi dasar (basic assumtion) yang melandasi pendekatan kuantitatif (dengan metode glotokrologi dan teknil leksiko statistik). Pertama, sebagian kosa kata suatu bahasa sukar sekali berubah bila dibandingkan dengan bagian lainnya. Yang dimaksud dengan kosa kata di sini adalah kosa kata dasar, yang meliputi kata-kta ganti, kata-kata bilangan, kata-kata mengenai anggota badan, kata-kata yang mengacu pada alam dan sekitarnya, dan kata-kata yang mengacu pada alat-alat perlengkapan sehari-hari yang sudah ada sejak permulaan. Morris Swadesh semula mengusulkan 100 kosa kata dasar dan kemudian diperluas menjadi 200 kosa kata dasar. Kedua, retensi kosa kata dasar bertahan hampir sepanjang masa (kurang lebih dalam waktu 1000 tahun). Ketiga, perubahan kosa kata dasar terjadi relatif sama pada semua bahasa. Hasil uji terhadap 13 bahasa-bahasa Indo-Eropa yang memiliki naskah-naskah tertulis menujukkan bahwa setelah 1000 tahun kosa kata dasar yang bertahan rata-tara 80,5%.Bila menggunakan 200 kosa kata dasar sebagai N, maka setelah 1000 tahun kosa kata dasar yang bertahan yaitu 80,5% X 200 kata = 161 kata. Dalam 1000 tahun berikutnya kosa kata dasar yang bertahan adalah 80,5% X 161 kata = 140 kata, dan seterusnya. Keempat, bila prosentase dari dua bahasa kerabat (cognate) diketahui maka dapat dihitung waktu pisah kedua bahasa itu. Jadi, seperti dinyatakan Crystal (1987: 333) "two languages which have 60% vacabulary in common would be thought to have diverged longer ago than two languages which have 80% in common." Karena dalam setiap 1000 tahun kedua bahasa kerabat itu masing-masing akan kehilangan kosa dasarnya dalam prosentase yang sama, maka waktu pisah keduanya juga harus dibagi dua, sehingga untuk kosa kata dasar yang tinggal 80,5%, waktu pisahnya kedua bahasa itu adalah 500 tahun sebelumnya. Ha; ini biasanya dihitung dengan rumus statistik sebagai berikut.

    T = waktu pisah; r = retensi atau prosentase konstan dalam 1000 tahun, atau disebut indeks; C = prosentase kerabat; log = logaritma dari.

    Dalam konteks pendekatan kuantitatif itu, kategori pemilahan tingkat kekerabatan beserta kategori prosentase kognat dan lama tahun berpisahnya dapat disimak pada tabel berikut ini.

    Klasifikasi pemilahan yang lain sebagai upaya penyempurnaan sebelumnya dikemukakan oleh Dyen berdasarkan pada perbedaan kritis (critical difference) menjadi lima kelas, yaitu kelas subfamily, genus, cluster, hesion, dan linkage (periksa Blust,1981: 5)

    Dengan segala kemudahan yang ditawarkan metode leksikostatistik ini tidak lepas dari berbagai kritik, baik kritik yang cenderung menekankan segi praktis maupun segi teoritis. Kritik yang menekankan aspek praktis seperti tampak pada kutipan berikut ini.

    This technique of lexicostatistics has not been withaout its critics however. We have already hinted at a number of practical problems associated with the method. Firstly, there is the problem of deciding on which particular sets of words we should treat as being ‘core’ vocabulary. Secondly, there is the problem of distinguishing between genuine cognates and borowings in languages which we do not know the full history of . (Crowley, 1987: 203)

    Di samping itu, penggunaan kosa kata dasar tidak sebagai cara pendahuluan di dalam penelitian, tetapi dianggap sebagai cara utama yang menggantikan teknik penentuan tingkat kekerabatan yang sebelumnya sudah dikenal tentu dianggap sangat kontroversial (periksa Bynon, 1996: 271). Adapun kritik yang bersifat teoritis antara lain dialamatkan pada validitas teori yang hanya diuji pada bahasa-bahasa Indo-Eropa yang memiliki bukti peninggalan tertulis (Crowley, 1987: 203), sehingga Bergsland dan Vogt bahkan sampai memberikan kritiknya yang tajam dengan menyatakan, "in principle, the lexicostatistical method is also unreliable for determining the subgrouping of cognate langauges and dialects" (dalam Blust, 1981: 4)

  3. Hakikat Pendekatan Kualitatif
    Hakikat pendekatan ini seperti diisyaratkan dari peristilahannya adalah pendekatan yang tidak menggunakan dasar kerja secara statistik, tetapi berdasarkan bukti-bukti kualitatif. Yaitu unsur inovasi bersama, baik fonologis maupun leksikal yang dimiliki oleh suatu kelompok bahasa tertentu secara eksklusif.

    Pendekatan ini lebih tua daripada pendekatan kuantitatif karena pendekatan ini memang sudah mulai digunakan sejak awal abad ke-18 dalam upaya perunutan kesejarahan dan pengelompokan bahasa-bahasa di dunia (Crystal, 1987: 292). Tepatnya yaitu sejak Franz Bopp membandingkan akhiran-akhiran kata kerja dalam bahasa-bahasa Sanskerta, Yunani, Latin, persia, dan German pada tahun 1816 yang kemudian dikenal sebagai bapak peletak dasar-dasar ilmu perbandingan bahasa (Mees, 1967: 6). Kemudian dilanjutkan oleh ahli-ahli yang lain dalam kerangka perbandingan bahasa-bahasa Indo-Eropa dan meluas kepada bahasa-bahasa lain di dunia.

    Implementasi pendekatan kualitatif ini menggunakan metode komparatif, sebagaimana dinyatakan oleh Meillet dalam bukunya yang berjudul The Comparative Method in Historical Linguistics. Ia dengan tegas mengemukakan sebagai berikut.

    Comparation is the only effective tool which the linguist has at his disposal to write the history of languages. We observe the results of changes, not the changes themselves. It is thus only with the aid of combinations that follow --- and can follow --- linguistic development (1970: 24).

    Atau sebagaimana dinyatakan oleh Crystal (1987: 292), "In historical linguistic, comparative method is a way of systematically comparing a series of languages in order to prove a historical relationship between them."

    Asumsi dasar pendekatan ini tentu saja terkait erat dengan hakikat perubahan bahasa. Bahasa yang alamiah, bukan yang artifisial, pasti mengalami perubahan dan dari perubahan itu mengimplikasikan adanya unsur retensi dan unsur inovasi. Perubahan bahasa itu tetap bersifat historis meskipun perubahan itu dialami oleh bahasa yang tidak mengenai sistem tulisan, atau bahasa lisan, karena aspek yang paling mendasar dari bahasa pada dasarnya tetap sama yaitu bunyi ujaran atau aspek fonologis. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita menjelaskan perubahan itu secara ilmiah, sebagaimana dinyatakan oleh Crowley (1987: 89), " How can we ’undo’ the changes that have taken place in languges?"

    Untuk menjawab pertanyaan itu, dalam pendekatan secara kualitatif biasanya digunakan teknik rekontruksi, yaitu merekontruksi beberapa aspek protobahasa melalui refleks yang dicerminkan oleh bahasa-bahasa turunannya dengan metode komparasi.

    Rekontruksi ini dapat dilakukan baik secara fonologis maupun secara leksikal (Fernandez, 1996: 26). Rekontruksi fonologis bertujuan untuk menetapkan protofonem demi protofonem yang dikerjakan melalui pemanfatan perangkat kognat bahasa-bahasa yang diteliti. Dari langkah ini dapat ditetapkan kaidah-kaidah perubahan fonem dengan mengamati refleks protofonem sesuai dengan lingkungan yang dimasukinya. Adapun rekontruksi leksikal bertujuan untuk menetapkan etimon atau protokata dengan mempertimbangkan kaidah perubahan fonem yag berlaku bagi bahasa-bahasa sekerabat pada perangkat kognat yang asli (bukan serapan dari bahasa lain). Berdasarkan formulasi kaidah korespondensi protofonem inilah kemudian dapat ditetapkan evidensi pengelompokan berupa inovasi bersama di bidang fonologi bagi pengelompokan bahasa pada peringkat yang lebih rendah secara ekslusif (exclusively shared inovation).

    Pelaksanaan rekontruksi dapat dilakukan baik dari bawah ke atas (buttom-up reconstruction) maupun dari atas ke bawah (top-down reconstruction) (Dempwollf, dalam Fernandez, 1996: 29). Rekonstruksi dari bawah ke atas bersifat induktif, sedangkan rekontruksi dari atas ke bawah bersifat deduktif. Rekonstruksi dari bawah ke atas biasanya digunakan untuk pengelompokan bahasa pada peringkat yang lebih rendah ke arah peringkat yang lebih tinggi. Sebaliknya, rekonstruksi dari atas ke bawah biasanya untuk mencari cerminan atau reflek dari bahasa proto pada bahasa-bahasa yang turunannya.

    Dari perspektif yang lain, rekontruksi dapat dilakukan secara eksternal (external reconstruction) dan secara internal (internal reconstruction). Rekontruksi eksternal adalah rekonstruksi yang bersasaran perbandingan antar bahasa serumpun dengan tujuan menetapkan fakta dan tingkat kekerabatan antarbahasa dalam rangka pengelompokan bahasa-bahasa sekerabat dan penyusunan garis silsilah kekerabatan bahasa. Sebagai contoh adalah penelitian sembilan bahasa di Flores (Fernandez, 1996). Sebaliknya, rekontruksi internal adalah rekonstruksi yang bersasaran perbandingan antardialek dalam suatu bahasa dalam rangka memahami perubahan suatu bahasa dengan memanfaatkan pemahaman dialek-dialek yang ada dalam bahasa itu. Sebagai contoh adalah penelitian Adelaar (1992) yang berjudul Proto Malayic: The Reconstruction of its Phonology and Parts of its Lexicon and Morphology atau penelitian Nothofer (1975) yang berjudul The Reconstruction of Proto-Melayo-Javanic.

  4. Keterkaitan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif
    Keterkaitan pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif dapat dipahami secara baik apabila kita memahami dalam konteks bahwa setiap pendekatan memiliki kelebihan atau keunggulan dan kelemahan.

    Pendekatan kuantitatif, sebagaimana telah dibahas pada (2) mempunyai kelebihan dapat sekaligus menanggani data dalam jumlah besar (dari banyak bahasa) sebagaimana yang dilakukan oleh Dyen terhadap lebih dari 200 bahasa-bahasa Austronesia (periksa Blust, 1981: 5) dengan penelitiannya yang berjudul A Lexicostatistical Classification of The Austronesian Languages. Namun, pendekatan ini juga mempunyai kelemahan sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya dengan beberapa kritik yang dialamatkan kepada pendekatan ini. Dalam konteks kelebihan dan kelemahan pendekatan inilah Crystal (1987: 331) menyatakan sebagai berikut.

    Certainly, the approach has generated many interesting hypotheses about early language states and the relative chronology of modern languages, and several scholars still use it in their work --- if only because no alternative technique has been devised.

    Pendekatan kualitatif mempunyai kelebihan dalam hal kecermatan dan ketajaman di dalam analisisnya karena memang sudah teruji dalam penelitian kekerabatan berbagai bahasa sejak mula pertama lahirnya linguistik historis komparatif. Adapun kelemahan pendekatan ini, kalau boleh dikatakan sebagai kelemahan, adalah kebalikan dari kelebihan pendekatan kuantitatif. Yaitu hanya dapat dilakukan terhadap data dari jumlah bahasa yang relatif terbatas. Terlalu sulit dibayangkan bila menganalisis ratusan bahasa sekaligus dengan pendekatan ini, kecuali memang dilakukan dalam suatu tim peneliti yang jumlahnya sangat besar.

    Dalam kerangka kelebihan dan kekurangan itulah pendekatan kuantitatif mempunyai kaitan sangat erat dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dapat dijadian unsur paduan bagi penelitian dengan pendekatan kualitatif sehingga membentuk pendekatan gabungan atau eklektik (eclective approach) yang dapat mendatangkan perkembangan yang lebih maju bagi studi linguistik historis komparatif. Sebagaimana diharapkan oleh Blust (1981: 57) dengan pernyataanya, "…I wish to emphasize that I am in sympathy with attempts to make lexicostatistics a useful tool for the historical linguist". Adapun implementasinya adalah hasil dari kerja pendekatan kuantitatif yang memberi gambaran secara garis besar atau gambaran sekilas dapat dijadikan hipotesis kerja bagi penelitian kualitatif (Fernandez, 1996: 25-26). Hipotesis itu berikutnya akan dikonfirmasi atau diverifikasi oleh hasil penelitian dengan pendekatan kualitatif. Hipotesis itu dikonformasi apabila hasil pendekatan kuantitatif memang sama dengan hasil pendekatan kualitatif. Sebaliknya, hipotesis itu diverifikasi apabila hasil penelitian kuantitatif berbeda dan kemudian diluruskan oleh hasil pendekatan kualitatif. Hal ini mengimpliksikan bahwa bila terdapat pertentangan antara keduanya (yaitu antara bukti-bukti kuantitatif dengan buktibukti kualitatif), maka bukti-bukti kualitatif lebih diutamakan karena bukti-bukti ini tampaknya lebih terpercaya untuk penentuan pengelompokan (periksa Blust, 1981: 7; Fernandez, 1996: 23).

  5. Penutup
    Pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif dengan segala kelebihan dan kekurangannya mempunyai kaitan erat satu sama lain, terutama dalam implementasi penelitian yang berdimensi eklektis holistik. Oleh karena itu, mempertentangkan satu dengan yang lain justru tidak akan memberi manfaat bagi perkembangan studi linguistik historis komparatif. Sebaliknya, memadukannya dalam suatu penelitian dengan memanfaatkan kelebihan masing-masing tampaknya justru akan mendatangkan hasil penelitian yang lebih lengkap dan lebih terpercaya.

    Pemaduan pendekatan secara harmonis dapat dilakukan sebagai bukti keterkaitan dengan implementasi pendekatan kuantitatif sebagai langkah awalnya, dan hasilnya kemudian diperlakukan sebagai hipotesis kerja bagi pengujian dengan pendekatan kualitatif sebagai langkah berikutnya.

    Atas dasar pemikiran di atas, kedua pendekatan itu tampaknya perlu dikuasai secara baik oleh peneliti manapun yang tertarik dengan persoalan kekerabatan bahasa, termasuk terutama yaitu peneliti-peneliti pemula yang akan mendalami masalah kekerabatan dan kesejarahan bahasa di kawasannya dalam konteks kemajuan studi linguistik historis komparatif.

Daftar Pustaka
Adelaar, Alexander K. 1992. Proto Malayic: The Reconstruction of its Phonology and Parts of its Lexicon and Morphology. Canbera: Australia National University Printing Service.

Bynon, Theodora. 1996. Historical Linguistics. Cambridge: Cambridge University Press.

Blust, R.A. 1981. Variation in Retention Rate among Austronesian Languages. Paper. TICAL. Bali. Mimeograf.

Crowley, Terry. 1987. An Introduction to Historical Linguistics. Port Moresby: University of Papua New Guinea Press.

Crystal, David. 1992. The Cambridge Encyclopedia of Language. Cambridege: Cambridge Universty Press.

Edi Subroto. 1992. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Mees, C.A. 1967. Ilmu Perbandingan Bahasa-Bahasa Austronesia. Kuala Lumpur: University of Malaya Press.

Meillet, Antoine. 1970. The Comparative Method in Historical Linguistics. Dalam Gordon B. Ford Jr (translator). Paris: Librairie Honore Champion.

Fernandez, I.Y. 1993. Linguistik Historis Komparatif (Bagian pertama, Bagian kedua ). Hand out Perkuliahan. Yogyakarta: UGM.

Fernandez, I.Y. 1994. Linguistik Historis Komparatif (Pengantar di Bidang Teori) Jilid I. Hand out Perkuliahan. Yogyakarta: UGM.

Fernandez, I.Y. 1996. Relasi Historis Kekerabatan Bahasa Flores, Kajian Linguistik Historis Kompatatif terhadap Sembilan Bahasa di Flores. Ende: Nusa Indah.

Keraf, Gorys.1991. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: Gramedia.

Nothofer, Bernd. 1975. The Reconstruction of Proto-Melayo-Javanic. Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Sudaryanto. 1988. Metode Linguistik, Bagian Pertama, Ke Arah memahami Metode Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Van Peurson, C.A. 1989. Susunan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Gramedia.

ATAU KIRIM EMAIL:
Kirim E-Mmail

Tim Kasih

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Hak Cipta Kasih 2000
10 Jun 2000 12:46 PM