Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

 

Salam KasihCerita KasihBahasa KasihBuaian KasihSandiwara KasihNuansa KasihObrolan KasihTamu KasihE-Mail Kasih

Untuk
Tampilan Terbaik Gunakan Browser:

Browser Terbaik untuk Situs Ini
Kasih: Kamar Studi Ilmu Humaniora
Kamar Studi Ilmu Humaniora


BUAIAN KASIH

Sasindo UNS
Sasindo '92 UNS
Album Foto Sasindo '92
Link Situs Portal Sasindo di Perguruan Tinggi lain

KENANGAN MASA KECIL

Desaku yang kucinta
pujaan hatiku
tempat ayah dan bunda
dan handai taulanku
tak mudah kulupakan
tak mudah bercerai
selalu kurindukan
desaku yang permai

HUJAN MASIH TURUN. Amat deras. Pelepah-pelepah pisang robek dihempas angin yang bertiup sangat keras. Suara angin menimpa turunnya air hujan membuat suara khas. Menciptakan suasana khusus. Menimbulkan imajinasi tersendiri. Saat itu nenek terlihat sibuk membuka setiap daun pintu secara lebar-lebar. Lalu anak-anak disuruhnya berkumpul di pendapa rumah. Piring-piring yang baru saja dipakai makan masih nampak tergeletak di atas meja. Belum disingkirkan. Mungkin menunggu hujan reda.Selanjutnya nenek mengambil selendang dan diikatkan ke sebuah tiang pendapa. Anak-anak hanya melihat saja semua perilaku nenek. Tetapi mereka yakin semua yang dilakukan nenek itu, pasti mengandung tujuan yang baik bagi anak-anak atau semua orang. Oleh karena itu akan menimbulkan akibat yang baik. Tidak ada seorang pun berpikir bahwa nenek melakukan sesuatu yang lucu dengan mengikatkan kain selendang ke sebuah tiang rumah atau membuka semua pintu lebar-lebar, di saat hujan turun dengan deras bersama tiupan angin yang amat kencang.

"Mengapa nenek membuka semua pintu lebar-lebar?" tanya Hardi kepada Sukro kakaknya.

"Nggak tahu," jawab Sukro pendek.

"Supaya angin bisa keluar-masuk rumah kita Har. Kalau angin bisa keluar-masuk, rumah kita tidak akan roboh," jawab Nenek pendek. Perempuan yang berumur lebih dari 70 tahun itu seperti mengerti jalan pikiran cucu-cucunya.

"Tetapi kenapa mesti mengikat tiang rumah Nek?" tanya Sukro.

"Supaya tiang yang menyangga atap kita kokoh dari hempasan angin," jawab Nenek lagi. Perempuan tua itu lantas meraih kepala anak-anak dan dielus-elusnya dengan lembut.

Nenek adalah seorang wanita yang luar biasa. Dengan sisa usianya ia masih berusaha mencari nafkah sendiri, sengan berjualan daging kerbau. Bila fajar telah tiba nenek sudah berangkat ke pasar yang jauhnya sekitar 9 Km hanya dengan berjalan kaki sembari menggendong potongan-potongan daging kerbau yang ditempatkan di sebuah bakul dan siap dijual ke pasar. Memang ada kereta yang selalu siap mengantar nenek ke pasar, tetapi menurut nenek ongkos naik kereta tidak seimbang dengan perolehan uang dari jualan daging kerbau itu. Maka dengan ringan hati nenek berjalan kaki ke pasar. Konon usaha nenek itu telah berlangsung sejak dulu. Sejak cucu-cucu nenek belum pada lahir. Bahkan menurut salah seorang anak nenek, usahanya itu telah dilakukan sejak nenek belum bertemu mendiang kakek.

"Nanti tidak usah pulang saja ya Le, tidur di tempat Nenek," kata Nenek kepada seorang anak yang kira-kira berusia 6 tahun. Ia adalah Towi. Cucu nenek dari salah seorang anak perempuannya.

"Kalau tidur di sini, Simbok akan mencari-cari Nek," kata Towi sambil memandang hujan yang masih turun dari langit.

"Lha kalau hujannya tidak berhenti?" goda Nenek sambil mendekap anak yang bertubuh gemuk itu erat-erat. Dari belasan cucunya yang telah lahir, nenek paling sering mendekap tubuh anak ini. Rasanya dengan mendekap tubuh anak ini, nenek merasa menemukan hidup yang sungguh membuatnya tenang. Rasanya dengan mendekap tubuh anak ini, nenek seperti menyaksikan hasil dari jerih payahnya dalam mencari nafkah. Alangkah gemuknya tubuh anak ini, desis Nenek lirih.

"Bapak nanti akan marah Nek, kalau aku tidak pulang," kata Towi sambil berusaha melepaskan diri dari ringkusan neneknya.

"Ya wis, ya wis," kata Nenek. Lalu melepaskan dekapannya sembari tertawa kecil.

Air hujan yang bagai ditumpahkan dari langit semakin bertambah banyak. Air itu mulai mencari tempat yang landai untuk berkumpul. Genangan-genangan air mulai terlihat seperti danau-danau kecil. Saluran-saluran air yang tersumbat oleh sampah yang ikut aliran air hujan mulai menciptakan bau yang tak sedap. Lewat pintu-pintu yang terbuka lebar-lebar, mata anak-anak melihat orang berpayung berjalan di bawah samar bayangan hujan menuju ke rumah nenek.

"Ada yang datang Nek," kata Agus cucu nenek dari anak lelakinya yang lain.

"Siapa?" tanya nenek sambil melemparkan kedua matanya ke tengah turunnya hujan.

"Nggak tahu ya Nek," jawab Agus sambil tetap melihat orang berpayung yang semakin dekat dengan tempat mereka berkumpul.

"Mbak Kus, Nek, Mbak Kus!" seru Towi gembira. Senang sekali ia melihat kakaknya datang menjemputnya.

"Mbakyumu to...," ujar Nenek lirih. Suaranya kalah keras dengan suara air hujan yang menimpa talang air.

"Masuklah Kus!" kata Nenek kepada Kus salah seorang cucu perempuannya. Seorang gadis kecil dengan rambut dikepang dua.

"Towi ada di sini to Nek?" kata Kus sambil menghampiri nenek dan cucu-cucunya.

"Ada. Wong sejak siang tadi mereka dolanan di sini. Kamu kok tahu kalau adikmu ada di sini?" tanya Nenek, lalu kedua tangannya mengelus-elus rambut Kus yang basah oleh air hujan.

"Ya hanya menduga-duga kok Nek. Wong sudah dicari-cari di mana-mana kok Nek. Tadi Simbok menyuruhku ke sini. Siapa tahu ada di sini. Biasanya Towi itu kalau dolan, kalau nggak ke tempat Pakdhe Bayan, ya ke sini to Nek," kata Kus.

"Mangana ndhuk. Aku tadi memasak oseng-oseng lombok ijo kesukaanmu," kata Nenek menawarkan makan tatkala Kus melihat piring-piring masih tergeletak di atas meja bertumpuk-tumpuk seperti tumpukan batu yang akan tumbang.

"Enggak kok Nek. Tadi sudah makan di rumah," kata Kus menolak.

Sementara itu hujan yang tadi jatuh bagaikan ditumpahkan dari langit, kini sudah muagak reda. Langit yang tadi penuh oleh awan hitam, kini perlahan-lahan mulai terang. Mendung mulai tertiup angin. Bahkan jalan kecil di depan rumah nenek mulai terlihat orang-orang keluar dari tempatnya berteduh.

"Ayo Le, pulang. Simbok sejak tadi mencari-cari," ajak Kus sambil menggamit bahu adiknya, Towi.

"Belum reda kok Kus. Nanti saja kalau sudah reda. Nanti adikmu masuk angin," kata nenek. Cucu-cucu nenek yang lain, yang rumahnya berdekatan dengan rumah nenek juga mulai berpamitan satu persatu. Hanya Agus yang tidak berpamitan lantaran orangtua Agus tinggal serumah dengan nenek. Kus memandangi langit yang mulai menghentikan turunnya air hujan. Adiknya, Towi melihat wajah kakaknya. Nampaknya Towi tahu, kakaknya tidak akan mau dicegah nenek untuk menunda kepulangan sampai hujan benar-benar reda.

"Aku pulang ya Nek. Besok aku akan dolan ke sini lagi," kata Towi sambil memegangi tangan kakaknya. Nenek meraih tubuh gemuk Towi, lalu menciumi pipinya berkali-kali.

"Yoooh..., sesuk dolan mrene meneh ya Le," kata Nenek lalu melepaskan Towi.

Kedua kakak beradik itu kemudian mengambil payungnya dan berjalan menuruni tangga rumah. Hujan ternyata benar-benar sudah berhenti. Meski genangan air masih terlihat di sana-sini tetapi suasana sudah mulai pulih seperti ketika belum turun hujan. Anak-anak yang pada waktu hujan berteduh di dalam rumah, kini mulai berkeluaran seperti capung keluar dari sarangnya. Hari memang belum begitu sore benar. Meski matahari tidak juga muncul, namun tabiat siang masih terasa nian.

* * *

DI RUMAH, orangtuanya sudah menunggu dengan rebusan buah gayam. Buah gayam adalah buah yang rasanya sangat gurih bila direbus dengan diberi garam barang sedikit. Buah itu tidak begitu keras tetapi juga tidak lembek. Untuk mengeluarkan isi buah dari tempatnya, digunakan peralatan seperti bendho. Perlu beberapa saat untuk mengeluarkan isi buah gayam tersebut. Kalau sudah dikeluarkan isinya, lalu dikupas kulit ari yang membungkus buah gayam tersebut. Setelah dikupas kulit arinya dan dicuci bersih baru direbus.

Di depan rumah memang tumbuh pohon gayam. Nampaknya pohon gayam itu sudah lama tumbuh. Hal ini nampak dari besar maupun tingginya pohon gayam tersebut. Warna kulit batangnya pun juga sudah menunjukkan ketuaan pohon tersebut. Dua kali setahun pohon tersebut berbuah. Setiap kali berbuah banyaknya bukan main. Banyak tetangga yang sering diberi atau malah meminta untuk direbus atau dibakar. Bahkan setiap pagi, sering satu atau dua orang sudah menanti rontokannya.

"Ayo ke sini, ikut makan sini!" teriak Nano kakak Towi sambil memperlihatkan buah gayam yang masih panas. Asapnya masih nampak kebul-kebul.

"Saka ngendi Le...," goda Simbok sambil meraih tubuh Towi dan memelukinya.

"Dari tempatnya Nenek!" kata Towi pelan. Ia kelihatan ragu-ragu mengatakan dirinya habis pergi ke tempatnya nenek, begitu melihat bapaknya juga berada di sekitarnya.

"Dengan siapa saja kau dolan di tempat nenekmu?" tanya bapaknya pelan. Sepertinya lelaki yang dipanggil bapak oleh Towi dan kakak-kakaknya ini mengetahui, kalau anaknya yang bertubuh gemuk ini memiliki ketakutan setiap kali pulang dari dolan. Maka lelaki itu tidak mencoba mencecar Towi dengan pertanyaan-pertanyaan, ketika anaknya gemuk itu tidak nampak menjawab pertanyaannya. Ia bisa memahami ketakutan yang merambah perasaan anaknya.

"Di rumah nenek tadi sudah diberi makan belum Le?" tanya Simbok seperti mau mencairkan ketegangan antara Towi dan bapaknya.

"Sudah!" jawab Towi seperti air mendapat jalan untuk lewat. Plong perasaanya.

"Iya to Kus? Adikmu tadi ya sudah makan?" tanya Simbok pada kakaknya, Kus.

"Nggak tahu, wong tadi aku ke sana sudah pada duduk-duduk di pendapa!" kata Kus.

"Tadi di rumah nenekmu diberi makan apa tidak Wi?" tanya Kus pada adiknya.

"Diberi. Tapi sedikit. Nenek nggak menanak nasi banyak," kata Towi sembari meraih rebusan gayam.

Towi adalah salah seorang anak dari pasangan Diatmo dan Santiyem. Ia merupakan anak nomor 8 dari sembilan bersaudara. Seorang kakaknya yang nomor 2 meninggal dunia ketika Towi belum lahir. Sekarang suadaranya masih 8 orang. Sulung seorang lelaki bernama Sudi. Nomor 2 seorang perempuan bernama Kinah. Nomor 3 seorang perempuan lagi bernama Miyatun. Nomor 4 laki-laki bernama Nimo. Nomor 5 laki-laki bernama Sano. Kemudian nomor 6 perempuan Kusmi. Lalu nomor 7 laki-laki Towi. Nomor 8 Si Bungsu Watmo.

Bersambung …


ATAU KIRIM EMAIL:
Kirim E-Mmail

Tim Kasih

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Hak Cipta Kasih 2000
10 Jun 2000 01:45 PM