KENANGAN
MASA KECIL
Desaku yang kucinta
pujaan hatiku
tempat ayah dan bunda
dan handai taulanku
tak mudah kulupakan
tak mudah bercerai
selalu kurindukan
desaku yang permai
HUJAN MASIH TURUN. Amat deras.
Pelepah-pelepah pisang robek dihempas
angin yang bertiup sangat keras. Suara
angin menimpa turunnya air hujan membuat
suara khas. Menciptakan suasana khusus.
Menimbulkan imajinasi tersendiri. Saat
itu nenek terlihat sibuk membuka setiap
daun pintu secara lebar-lebar. Lalu
anak-anak disuruhnya berkumpul di pendapa
rumah. Piring-piring yang baru saja
dipakai makan masih nampak tergeletak di
atas meja. Belum disingkirkan. Mungkin
menunggu hujan reda.Selanjutnya nenek
mengambil selendang dan diikatkan ke
sebuah tiang pendapa. Anak-anak hanya
melihat saja semua perilaku nenek. Tetapi
mereka yakin semua yang dilakukan nenek
itu, pasti mengandung tujuan yang baik
bagi anak-anak atau semua orang. Oleh
karena itu akan menimbulkan akibat yang
baik. Tidak ada seorang pun berpikir
bahwa nenek melakukan sesuatu yang lucu
dengan mengikatkan kain selendang ke
sebuah tiang rumah atau membuka semua
pintu lebar-lebar, di saat hujan turun
dengan deras bersama tiupan angin yang
amat kencang.
"Mengapa nenek membuka semua
pintu lebar-lebar?" tanya Hardi
kepada Sukro kakaknya.
"Nggak tahu," jawab Sukro
pendek.
"Supaya angin bisa keluar-masuk
rumah kita Har. Kalau angin bisa
keluar-masuk, rumah kita tidak akan
roboh," jawab Nenek pendek.
Perempuan yang berumur lebih dari 70
tahun itu seperti mengerti jalan pikiran
cucu-cucunya.
"Tetapi kenapa mesti mengikat
tiang rumah Nek?" tanya Sukro.
"Supaya tiang yang menyangga atap
kita kokoh dari hempasan angin,"
jawab Nenek lagi. Perempuan tua itu
lantas meraih kepala anak-anak dan
dielus-elusnya dengan lembut.
Nenek adalah seorang wanita yang luar
biasa. Dengan sisa usianya ia masih
berusaha mencari nafkah sendiri, sengan
berjualan daging kerbau. Bila fajar telah
tiba nenek sudah berangkat ke pasar yang
jauhnya sekitar 9 Km hanya dengan
berjalan kaki sembari menggendong
potongan-potongan daging kerbau yang
ditempatkan di sebuah bakul dan siap
dijual ke pasar. Memang ada kereta yang
selalu siap mengantar nenek ke pasar,
tetapi menurut nenek ongkos naik kereta
tidak seimbang dengan perolehan uang dari
jualan daging kerbau itu. Maka dengan
ringan hati nenek berjalan kaki ke pasar.
Konon usaha nenek itu telah berlangsung
sejak dulu. Sejak cucu-cucu nenek belum
pada lahir. Bahkan menurut salah seorang
anak nenek, usahanya itu telah dilakukan
sejak nenek belum bertemu mendiang kakek.
"Nanti tidak usah pulang saja ya Le,
tidur di tempat Nenek," kata Nenek
kepada seorang anak yang kira-kira
berusia 6 tahun. Ia adalah Towi. Cucu
nenek dari salah seorang anak
perempuannya.
"Kalau tidur di sini, Simbok
akan mencari-cari Nek," kata Towi
sambil memandang hujan yang masih turun
dari langit.
"Lha kalau hujannya tidak
berhenti?" goda Nenek sambil
mendekap anak yang bertubuh gemuk itu
erat-erat. Dari belasan cucunya yang
telah lahir, nenek paling sering mendekap
tubuh anak ini. Rasanya dengan mendekap
tubuh anak ini, nenek merasa menemukan
hidup yang sungguh membuatnya tenang.
Rasanya dengan mendekap tubuh anak ini,
nenek seperti menyaksikan hasil dari
jerih payahnya dalam mencari nafkah.
Alangkah gemuknya tubuh anak ini, desis
Nenek lirih.
"Bapak nanti akan marah Nek,
kalau aku tidak pulang," kata Towi
sambil berusaha melepaskan diri dari
ringkusan neneknya.
"Ya wis, ya wis,"
kata Nenek. Lalu melepaskan dekapannya
sembari tertawa kecil.
Air hujan yang bagai ditumpahkan dari
langit semakin bertambah banyak. Air itu
mulai mencari tempat yang landai untuk
berkumpul. Genangan-genangan air mulai
terlihat seperti danau-danau kecil.
Saluran-saluran air yang tersumbat oleh
sampah yang ikut aliran air hujan mulai
menciptakan bau yang tak sedap. Lewat
pintu-pintu yang terbuka lebar-lebar,
mata anak-anak melihat orang berpayung
berjalan di bawah samar bayangan hujan
menuju ke rumah nenek.
"Ada yang datang Nek," kata
Agus cucu nenek dari anak lelakinya yang
lain.
"Siapa?" tanya nenek sambil
melemparkan kedua matanya ke tengah
turunnya hujan.
"Nggak tahu ya Nek," jawab
Agus sambil tetap melihat orang berpayung
yang semakin dekat dengan tempat mereka
berkumpul.
"Mbak Kus, Nek, Mbak Kus!"
seru Towi gembira. Senang sekali ia
melihat kakaknya datang menjemputnya.
"Mbakyumu to...,"
ujar Nenek lirih. Suaranya kalah keras
dengan suara air hujan yang menimpa
talang air.
"Masuklah Kus!" kata Nenek
kepada Kus salah seorang cucu
perempuannya. Seorang gadis kecil dengan
rambut dikepang dua.
"Towi ada di sini to
Nek?" kata Kus sambil menghampiri
nenek dan cucu-cucunya.
"Ada. Wong sejak siang
tadi mereka dolanan di sini. Kamu
kok tahu kalau adikmu ada di sini?"
tanya Nenek, lalu kedua tangannya
mengelus-elus rambut Kus yang basah oleh
air hujan.
"Ya hanya menduga-duga kok Nek. Wong
sudah dicari-cari di mana-mana kok
Nek. Tadi Simbok menyuruhku ke
sini. Siapa tahu ada di sini. Biasanya
Towi itu kalau dolan, kalau nggak
ke tempat Pakdhe Bayan, ya ke sini
to Nek," kata Kus.
"Mangana ndhuk. Aku tadi
memasak oseng-oseng lombok ijo
kesukaanmu," kata Nenek menawarkan
makan tatkala Kus melihat piring-piring
masih tergeletak di atas meja
bertumpuk-tumpuk seperti tumpukan batu
yang akan tumbang.
"Enggak kok Nek. Tadi sudah makan
di rumah," kata Kus menolak.
Sementara itu hujan yang tadi jatuh
bagaikan ditumpahkan dari langit, kini
sudah muagak reda. Langit yang tadi penuh
oleh awan hitam, kini perlahan-lahan
mulai terang. Mendung mulai tertiup
angin. Bahkan jalan kecil di depan rumah
nenek mulai terlihat orang-orang keluar
dari tempatnya berteduh.
"Ayo Le, pulang. Simbok
sejak tadi mencari-cari," ajak Kus
sambil menggamit bahu adiknya, Towi.
"Belum reda kok Kus. Nanti saja
kalau sudah reda. Nanti adikmu masuk
angin," kata nenek. Cucu-cucu nenek
yang lain, yang rumahnya berdekatan
dengan rumah nenek juga mulai berpamitan
satu persatu. Hanya Agus yang tidak
berpamitan lantaran orangtua Agus tinggal
serumah dengan nenek. Kus memandangi
langit yang mulai menghentikan turunnya
air hujan. Adiknya, Towi melihat wajah
kakaknya. Nampaknya Towi tahu, kakaknya
tidak akan mau dicegah nenek untuk
menunda kepulangan sampai hujan
benar-benar reda.
"Aku pulang ya Nek. Besok aku
akan dolan ke sini lagi,"
kata Towi sambil memegangi tangan
kakaknya. Nenek meraih tubuh gemuk Towi,
lalu menciumi pipinya berkali-kali.
"Yoooh..., sesuk dolan mrene
meneh ya Le," kata Nenek lalu
melepaskan Towi.
Kedua kakak beradik itu kemudian
mengambil payungnya dan berjalan menuruni
tangga rumah. Hujan ternyata benar-benar
sudah berhenti. Meski genangan air masih
terlihat di sana-sini tetapi suasana
sudah mulai pulih seperti ketika belum
turun hujan. Anak-anak yang pada waktu
hujan berteduh di dalam rumah, kini mulai
berkeluaran seperti capung keluar dari
sarangnya. Hari memang belum begitu sore
benar. Meski matahari tidak juga muncul,
namun tabiat siang masih terasa nian.
* * *
DI RUMAH, orangtuanya sudah menunggu
dengan rebusan buah gayam. Buah
gayam adalah buah yang rasanya sangat
gurih bila direbus dengan diberi garam
barang sedikit. Buah itu tidak begitu
keras tetapi juga tidak lembek. Untuk
mengeluarkan isi buah dari tempatnya,
digunakan peralatan seperti bendho.
Perlu beberapa saat untuk mengeluarkan
isi buah gayam tersebut. Kalau sudah
dikeluarkan isinya, lalu dikupas kulit
ari yang membungkus buah gayam tersebut.
Setelah dikupas kulit arinya dan dicuci
bersih baru direbus.
Di depan rumah memang tumbuh pohon
gayam. Nampaknya pohon gayam itu sudah
lama tumbuh. Hal ini nampak dari besar
maupun tingginya pohon gayam tersebut.
Warna kulit batangnya pun juga sudah
menunjukkan ketuaan pohon tersebut. Dua
kali setahun pohon tersebut berbuah.
Setiap kali berbuah banyaknya bukan main.
Banyak tetangga yang sering diberi atau
malah meminta untuk direbus atau dibakar.
Bahkan setiap pagi, sering satu atau dua
orang sudah menanti rontokannya.
"Ayo ke sini, ikut makan
sini!" teriak Nano kakak Towi sambil
memperlihatkan buah gayam yang masih
panas. Asapnya masih nampak kebul-kebul.
"Saka ngendi Le...,"
goda Simbok sambil meraih tubuh
Towi dan memelukinya.
"Dari tempatnya Nenek!" kata
Towi pelan. Ia kelihatan ragu-ragu
mengatakan dirinya habis pergi ke
tempatnya nenek, begitu melihat bapaknya
juga berada di sekitarnya.
"Dengan siapa saja kau dolan di
tempat nenekmu?" tanya bapaknya
pelan. Sepertinya lelaki yang dipanggil
bapak oleh Towi dan kakak-kakaknya ini
mengetahui, kalau anaknya yang bertubuh
gemuk ini memiliki ketakutan setiap kali
pulang dari dolan. Maka lelaki itu
tidak mencoba mencecar Towi dengan
pertanyaan-pertanyaan, ketika anaknya
gemuk itu tidak nampak menjawab
pertanyaannya. Ia bisa memahami ketakutan
yang merambah perasaan anaknya.
"Di rumah nenek tadi sudah diberi
makan belum Le?" tanya Simbok
seperti mau mencairkan ketegangan antara
Towi dan bapaknya.
"Sudah!" jawab Towi seperti
air mendapat jalan untuk lewat. Plong perasaanya.
"Iya to Kus? Adikmu tadi
ya sudah makan?" tanya Simbok pada
kakaknya, Kus.
"Nggak tahu, wong tadi aku
ke sana sudah pada duduk-duduk di
pendapa!" kata Kus.
"Tadi di rumah nenekmu diberi
makan apa tidak Wi?" tanya Kus pada
adiknya.
"Diberi. Tapi sedikit. Nenek
nggak menanak nasi banyak," kata
Towi sembari meraih rebusan gayam.
Towi adalah salah seorang anak dari
pasangan Diatmo dan Santiyem. Ia
merupakan anak nomor 8 dari sembilan
bersaudara. Seorang kakaknya yang nomor 2
meninggal dunia ketika Towi belum lahir.
Sekarang suadaranya masih 8 orang. Sulung
seorang lelaki bernama Sudi. Nomor 2
seorang perempuan bernama Kinah. Nomor 3
seorang perempuan lagi bernama Miyatun.
Nomor 4 laki-laki bernama Nimo. Nomor 5
laki-laki bernama Sano. Kemudian nomor 6
perempuan Kusmi. Lalu nomor 7 laki-laki
Towi. Nomor 8 Si Bungsu Watmo.
Bersambung
ATAU
KIRIM EMAIL:

Tim
Kasih
Wassalamu'alaikum
Wr. Wb.
|