Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

 

Salam KasihCerita KasihBahasa KasihBuaian KasihSandiwara KasihNuansa KasihObrolan KasihTamu KasihE-Mail Kasih

Untuk
Tampilan Terbaik Gunakan Browser:

Browser Terbaik untuk Situs Ini
Kasih: Kamar Studi Ilmu Humaniora
Kamar Studi Ilmu Humaniora


CERITA KASIH

Sasindo UNS
Sasindo '92 UNS
Album Foto Sasindo '92
Link Situs Portal Sasindo di Perguruan Tinggi lain

MASDI BERPULANG

Cerpen Wieranta

BAGI kami, Masdi adalah pengganti orangtua, meskipun bapak masih hidup. Kecuali itu, ia juga kawan dan sahabat yang sangat hangat bila kami bertandang ke rumah atau kalau kebetulan singgah dari suatu tempat. Demikian dekatnya hubungan kami, seperti gula dan manisnya. Kami benar-benar merasa kehilangan, setelah mendapati kenyataan bahwa ia tak mampu lagi mengatasi penyakit yang merusak kedua paru-parunya. Yusum menangis seperti anak kecil kehilangan mainan kesayangannya. Yuyem juga menangis, meski lebih lirih dari Yusum, tetapi tangis Yuyem terasa sembilu mengiris perasaan. Kemudian Masmin, meski seorang lelaki yang sudah punya menantu, tak kurang pula memperlihatkan perasaan dukanya dengan berpulangnya Masdi. Masno yang notabene lebih berpengalaman keluar-masuk rumah tinggal bermacam paranormal atau ahli kebatinan, juga tak mampu menyembunyikan perasaan sedihnya melihat jenasah Masdi tercinta. Yang lebih memilukan adalah Yurus yang notabene baru saja dikeruniai cucu mungil, begitu tiba di rumah duka langsung menangis sesenggukan di depan jenasah Masdi. Yurus menangis seperti seorang anak kecil diperdayai kakak-kakaknya, dan akhirnya pingsan di pangkuan suaminya. Luar biasa. Setiap anggota keluarga yang dilahirkan dari rahim ibu, menangis bersamaan dengan nada dan irama tangis yang memilukan.

"Mengapa kita semua mengabaikan keluhannya tempo hari?" bisik Yusum di sela-sela tangisnya. Yusum ingat ketika berhalalbihalal di rumah keluarga tempo hari sempat mendengarkan keluhan Masdi tentang batuknya yang acap kecampuran darah merah. Yusum juga tahu bahwa penyakit paru-paru Masdi itu sudah disandangnya sejak Masdi masih sebagai seorang anak yang belum sunat. Biasanya kalau batuk kecampuran darah, Masdi akan memakan butir-butir es batu untuk membekukan darah di kedua paru-parunya. Maka ketika Masdi bercerita bahwa beberapa hari lewat batuk kecampuran darah, Yusum menyarankan agar mengurangi aktivitas kerja di sawah sewaannya.

"Apakah istri dan anak-anak Masdi tidak tahu kalau Masdi punya penyakit paru-paru?" Yuyem menjawab pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan pula di sela-sela tangisnya. Yuyem sangat tahu tabiat penyakit Masdi yang dibawa semenjak masa mudanya. Penyakit itu akan menunjukkan kekejamannya bila perilaku kerja Masdi mengabaikan kemampuan tubuhnya yang lemah. Dari mulutnya akan mengucurkan darah yang membuat bulu kuduk bergidik siapapun yang menyaksikannya. Maka siapa pun akan terbakar emosinya bila mengetahui ada seseorang yang secara sewenang-wenang telah mengakibatkan Masdi menjadi bulan-bulanan penyakitnya. Demikian pula Yuyem, ia akan marah semarah-marahnya jika mengetahui Masdi menjadi sangat menderita karena mengerjakan suatu pekerjaan atas perintah orang lain. Tidak pandang bulu, bahkan ibu atau bapak sekalipun. Kalau perintah-perintahnya mengerjakan sesuatu hal, sampai membuat Masdi tersungkur sambil memegangi dadanya yang berdarah di sebelah dalam, maka Yuyem akan marah bagaikan induk harimau diganggu bayi-bayinya.

Setiap anggota keluarga benar-benar merasa kehilangan atas berpulangnya Masdi. Kami semua merasa bahwa pohon tempat kami berlindung telah tumbang. Kami tak akan menemukan pohon pelindung seteduh pohon yang telah tumbang itu. Kami akan belajar dari nol lagi untuk hidup tanpa pohon pelindung dari terjangan badai dan hujan. Biasanya ada anggota keluarga kami punya masalah, maka ke tempat Masdi-lah kami mencari air penyejuk jiwa. Masdi pun akan memberikan apa yang kami butuhkan itu dengan segala perhitungan yang cermat dan penuh tanggungjawab.

"Masdi itu kira-kira usianya berapa ya Pak?" tanya Masmin kepada Bapak yang duduk tepekur di samping jenasah Masdi yang terbujur dengan tenang. Masmin merasa bahwa usia Masdi belum cukup tua untuk berpulang ke rahmatullah. Tapi Masmin tak punya nyali untuk menyatakan perasaannya. Rasanya seperti orang yang tak tahu berterimakasih saja kalau sampai ada seorang manusia membantah atas ketentuan takdir yang telah tergelar di hadapannya. Kematian bagaimana pun tak bisa ditolak meski dengan teknik pura-pura berdiskusi sekalipun. Orang tak diizinkan memprotes Tuhan untuk urusan kematian baik dengan cara tersamar maupun cara apapun. Mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, kalau berurusan dengan kematian mustahil manusia mampu membatalkannya. Mengaitkan usia Masdi dengan datangnya ajal yang telah menjemputnya, sungguh merupakan hal sangat menggoda, termasuk Masmin.

"Kakakmu itu usianya kira-kira ya sekitar 63 tahun," kata Bapak sambil sesekali menatap wajah Masdi yang tersembunyi di balik kain yang membungkusnya. Mata bapak itu seolah mampu menembus kain yang menutupi seluruh jasad anak sulungnya. Melalui kain yang membungkus jasad yang telah menjadi bangkai itu, bapak seperti melihat sebuah adegan yang menggambarkan anak sulungnya: Masdi berjalan mendatangi ibunya yang sudah mendahului tiba di tanah yang dikisahkan para rasul dalam ayat-ayat sucinya. Mata bapak nanap menekuri lekuk-lekuk jasad Masdi. Mungkin bapak sedang mengurai berbagai kenangan kehidupan yang telah dianyam bersama Masdi sejak dilahirkan dari rahim ibu. Meski bibir bapak tertutup rapat, tetapi kenangan bapak bercerita panjang lebar tentang anak sulungnya yang kini telah menjadi jenasah.

"Sejak kapan Masdi mengidap penyakit paru-paru Pak?" tanya Masmin lirih. Ia mengakui bahwa dirinya sembrono dengan menanyakan hal itu kepada bapak. Pertanyaan itu sama dengan menunjukkan dirinya tak punya kepekaan, kepedulian, atau apresisasi yang cukup terhadap ihwal kakak sulungnya. Tetapi ia sangat ingin tahu secara pasti, sejak kapan Masdi terkena penyakit paru-paru. Informasi hanya dapat diperoleh dari sumber yang mempunyai otoritas yang memadai, yakni bapak yang tahu persis perikehidupan Masdi sejak dilahirkan dari rahim ibu sampai saat-saat terakhir akan memasuki liang lahat.

"Sejak kecil. Sejak kau belum dilahirkan, kakakmu sudah mendapat penyakit paru-paru. Mungkin malah sejak dilahirkan, kakakmu sudah membawa penyakit paru-paru itu. Dulu ia pernah di bawa ke Semalo dan sembuh. Tetapi lantaran jalan kehidupan yang harus ia jalani tidak sama persis dengan jalan kehidupannya di waktu masih kecil, maka penyakitnya kembali menyertainya sampai ia dijemput maut," kata Bapak dengan suara datar. Siapa pun tahu mata bapak basah oleh airmatanya yang meleleh terus menerus sejak dikabari Masdi meninggal dunia. Sapu tangan yang diberikan menantu-menantunya, seolah tidak cukup untuk mengisap airmata bapak yang terus mengalir dari sumber kedukaan seorang ayah yang terceraikan kasihnya dengan anak yang telah menyertainya selama 63 tahun.

"Apakah kehidupan Masdi yang miskin itu yang membuat penyakitnya tak mau pergi dari tubuhnya?" desis Masmin sambil menyerahkan secarik saputangan yang agak besar -tapi juga telah basah oleh airmatanya sendiri- kepada Bapak yang repot dengan sapu tangannya yang kecil-kecil. Masmin benar-benar tidak pernah mengerti, mengapa Masdi yang mempunyai keahlian di bidang yang berkaitan dengan alat tenun bukan mesin, tidak pernah memanfaatkan keahliannya itu untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, baik kehidupannya sendiri maupun kehidupan keluarganya. Mengenai hal ini, konon ada yang mengatakan bahwa Masdi merasa malu bekerja sebagai buruh di desanya sendiri. Mungkin ini berkaitan dengan status bapak yang dulu pernah berhasil mengembangkan usahanya di bidang industri tekstil tradisional. Dengan mengerjakan buruh tenun hampir 100 orang, membuat status bapak -sudah barang tentu anak dan istrinya juga- meningkat ke tataran yang lebih tinggi dari sebelumnya. Jadi Masdi merasa merusak "posisi status" yang sudah didapatnya dari masa silam itu, kalau sampai menerima pekerjaan sebagai buruh di pabrik tenun. Padahal banyak orang yang tahu kemampuan Masdi, lantas menawarkan pekerjaan untuknya dengan gaji yang cukup lumayan. Namun Masdi tidak pernah bersedia menerima tawaran tersebut, hanya karena suatu prinsip tidak mau direh orang lain. Mungkin prinsip Masdi itu aneh untuk zaman seperti sekarang. Orang mengorbankan kesejahteraan hidup hanya demi prinsip yang belum bisa dipertanggungjawabkan.

"Kakakmu itu sejak lahir sampai ajal menjemputnya, belum pernah merasakan hidup senang," bisik bapak sembari menyelamatkan api lentera yang nyaris padam digoyang angin. Mata bapak nanar menatap lidah api lentera yang meliuk-liuk dengan irama lelah. Seperti asap api yang membubung ke atas, menerobos sela-sela genteng, kenangan bapak pun menerobos tembok waktu. Bayangan seorang anak lelaki kecil, sakit-sakitan, hidup dalam kubangan kemiskinan, harus menanggung kesengsaraan yang tiada tara. Bagi bapak, anak sulungnya adalah saksi sejarah dalam perjalanannya meniti riwayat keberhasilan dan kegagalan yang telah ia reguk selama ini. Ia adalah bagian dari hidupnya. Maka ia dinilai telah berkhianat ketika ia mengemukakan rencananya akan menjual sawah tiga petak yang selama ini digarap Masdi dengan cara bagi hasil.

"Apakah bapak sudah memikirkan masak-masak dengan rencana menjual tiga sawah itu?" tanyaku pada saat diajak rasanan bapak. Waktu itu bapak seperti sudah bulat tekadnya untuk menjual tiga sawah warisan dari leluhurnya. Alasan yang diajukan adalah kalau tiga petak sawah tersebut tidak dijual sekarang, besok kalau ia sudah tak ada, sawah itu akan dimiliki Masdi seorang diri. Padahal ia tidak menghendaki demikian. Ia ingin tiga petak sawah tersebut tidak hanya dinikmati oleh seorang anak.

"Kalau sawah itu dijual, terus Masdi bagaimana? Dia itu tidak punya sumber penghasilan lain kecuali dari hasil menggarap sawah tersebut bukan? Lha kalau sawah tersebut dijual, terus bagaimana kehidupannya maupun kehidupan anak-anaknya? Apakah tidak akan membuat sengsara?" begitu komentar yang sempat kuajukan waktu itu. Dalam benakku, matapencaharian yang menopang kehidupan Masdi benar-benar terancam oleh rencana bapak yang akan menjual sawah dengan alasan yang kurang prinsipial. Waktu itu rencana tidak jadi dilaksanakan. Namun sepandai-pandainya orang menahan hasrat yang demikian kuat, akhirnya jebol juga. Ketika Tuhan Semesta Alam menjadikan ibu terkena penyakit tumor ganas yang harus dioperasi, maka bapak segera punya alasan untuk melaksanakan rencana menjual tiga petak sawah warisan dari leluhurnya itu.

"Kalau sawah tersebut tidak dijual, maka siapa yang akan menanggung biaya operasi ibumu?" tanya bapak pada waktu itu. Biaya operasi pada waktu itu sekitar Rp. 4.000.000,- Sebetulnya untuk ukuran pada waktu itu, uang sebanyak itu bukan uang yang sangat besar. Andaikata kami semua, anak-anak bapak yang berjumlah delapan orang ini bersatu padu, sepakat bergotongroyong untuk membayar secara patungan, maka biaya operasi ibu itu pasti akan dapat dibereskan. Seandainya gagasan mengangkat biaya operasi ibu itu tidak dapat disepakati, sebetulnya bapak masih juga menjual berbagai perhiasan yang ditinggalkan ibu yang menurut Yuyem bisa laku sekitar Rp. 2.750.000,- Dengan uang tersebut, kiranya tambahan yang harus disediakan juga tidak akan begitu banyak. Apalagi kios yang ada di Beringharjo, yang selama ini dipakai ibu untuk berjualan bisa pula dikontrakkan selama sekian tahun. Atau kalau perlu sawah bapak yang tiga petak itu juga bisa disewakan selama sekian tahun. Pokoknya kalau memang alasan yang dipakai bapak adalah untuk biaya operasi, maka sebetulnya banyak hal dapat dilakukan. Namun tatkala berbagai alasan itu tidak ada yang mengutarakan, maka jatuhlah keputusan menjual sawah tersebut. Dan celakanya, setelah sawah tersebut dijual ibu pun meninggal dunia.

Memang yang paling nampak kecewa dari sekian anak-anak bapak dengan penjualan sawah itu adalah Masdi. Berbagai ungkapan kekecewaan senantiasa muncul bila ketemu salah seorang dari kami. Kami pun tak mampu berbuat banyak untuk kekecewaan itu. Paling kami hanya bisa memberi hiburan, bahwa Masdi bisa mengerjakan pekerjaan lain selain menggarap sawah. Namun hiburan itu toh tak bisa menolong keterpurukan Masdi dalam menjalani kehidupan ekonominya.

Akhirnya pada saat Masdi ditawari untuk menggarap sawah Bu Roto dengan sistem bagi hasil ia pun menerimanya. Tetapi situasi zaman sudah demikian banyak berubah. Harga-harga komiditi pertanian sudah demikian mahal. Pupuk mahal, KCL mahal, pestisida mahal, pokoknya semuanya menjadi mahal, sehingga menggarap sawah dengan sistem bagi hasil sungguh tak bisa menolong petani gurem seperti Masdi. Dengan mengandalkan hasil istrinya berjualan lurik ke pasar lokal, ditambah hasil kerja anak-anaknya sebagai buruh desa, maka Masdi membereskan segala kebutuhan hidupnya. Tidak cukup memang, tapi harus bagaimana lagi.

Maka ketika kami semuanya menangis mendapat berita Masdi meninggal dunia, mungkin ini bukan hanya tangis yang dikarenakan melihat tubuh kurus Masdi yang telah menjadi jenasah, tetapi juga tangis untuk sejarah Masdi yang demikian sengsara menjalani jalan panjang kehidupan. Mungkin tangis ini memang tidak akan menghapus riwayat penderitaan Masdi, tetapi setidaknya kami merasa telah membayar ketidakmampuan kami menolong Masdi mengentaskannya dari kubangan kemiskinan. Padahal hanya dengan menangis sesenggukan keadaan tak akan banyak merubah keadaan. Saudara-saudara sekakek yang tinggal di Solo saja, yang dikhabari perihal berpulangnya Masdi, juga tidak mau datang melayat, hanya karena selama hidupnya Masdi tidak pernah mampu hadir bila diundang saudara-saudara Solo untuk menghadiri suatu hajatan. Itulah Masdi. Ia diasingkan, dijauhi orang-orang karena kemiskinannya. Ia meninggal pun karena kemiskinannya. Hanya kami adik-adik serahim yang tetap menganggapnya sebagai kakak, sahabat, kawan dan pelindung tanpa embel-embel. Semoga Tuhan memberinya tempat yang lapang, dan menempatkan arwahnya di tempat yang 1000 kali lebih bagus dari keadaannya ketika hidup.

Solo, 7 Pebruari 1999

Wieranta


ATAU KIRIM EMAIL:
Kirim E-Mmail

Tim Kasih

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Hak Cipta Kasih 2000
10 Jun 2000 01:45 PM