|
|
MASDI
BERPULANG
Cerpen Wieranta
BAGI kami, Masdi adalah
pengganti orangtua, meskipun bapak masih
hidup. Kecuali itu, ia juga kawan dan
sahabat yang sangat hangat bila kami
bertandang ke rumah atau kalau kebetulan
singgah dari suatu tempat. Demikian
dekatnya hubungan kami, seperti gula dan
manisnya. Kami benar-benar merasa
kehilangan, setelah mendapati kenyataan
bahwa ia tak mampu lagi mengatasi
penyakit yang merusak kedua paru-parunya.
Yusum menangis seperti anak kecil
kehilangan mainan kesayangannya. Yuyem
juga menangis, meski lebih lirih dari
Yusum, tetapi tangis Yuyem terasa sembilu
mengiris perasaan. Kemudian Masmin, meski
seorang lelaki yang sudah punya menantu,
tak kurang pula memperlihatkan perasaan
dukanya dengan berpulangnya Masdi. Masno
yang notabene lebih berpengalaman
keluar-masuk rumah tinggal bermacam
paranormal atau ahli kebatinan, juga tak
mampu menyembunyikan perasaan sedihnya
melihat jenasah Masdi tercinta. Yang
lebih memilukan adalah Yurus yang
notabene baru saja dikeruniai cucu
mungil, begitu tiba di rumah duka
langsung menangis sesenggukan di depan
jenasah Masdi. Yurus menangis seperti
seorang anak kecil diperdayai
kakak-kakaknya, dan akhirnya pingsan di
pangkuan suaminya. Luar biasa. Setiap
anggota keluarga yang dilahirkan dari
rahim ibu, menangis bersamaan dengan nada
dan irama tangis yang memilukan.
"Mengapa kita
semua mengabaikan keluhannya tempo
hari?" bisik Yusum di sela-sela
tangisnya. Yusum ingat ketika
berhalalbihalal di rumah keluarga tempo
hari sempat mendengarkan keluhan Masdi
tentang batuknya yang acap kecampuran
darah merah. Yusum juga tahu bahwa
penyakit paru-paru Masdi itu sudah
disandangnya sejak Masdi masih sebagai
seorang anak yang belum sunat. Biasanya
kalau batuk kecampuran darah, Masdi akan
memakan butir-butir es batu untuk
membekukan darah di kedua paru-parunya.
Maka ketika Masdi bercerita bahwa
beberapa hari lewat batuk kecampuran
darah, Yusum menyarankan agar mengurangi
aktivitas kerja di sawah sewaannya.
"Apakah istri dan
anak-anak Masdi tidak tahu kalau Masdi
punya penyakit paru-paru?" Yuyem
menjawab pertanyaan dengan mengajukan
pertanyaan pula di sela-sela tangisnya.
Yuyem sangat tahu tabiat penyakit Masdi
yang dibawa semenjak masa mudanya.
Penyakit itu akan menunjukkan
kekejamannya bila perilaku kerja Masdi
mengabaikan kemampuan tubuhnya yang
lemah. Dari mulutnya akan mengucurkan
darah yang membuat bulu kuduk bergidik
siapapun yang menyaksikannya. Maka siapa
pun akan terbakar emosinya bila
mengetahui ada seseorang yang secara
sewenang-wenang telah mengakibatkan Masdi
menjadi bulan-bulanan penyakitnya.
Demikian pula Yuyem, ia akan marah
semarah-marahnya jika mengetahui Masdi
menjadi sangat menderita karena
mengerjakan suatu pekerjaan atas perintah
orang lain. Tidak pandang bulu, bahkan
ibu atau bapak sekalipun. Kalau
perintah-perintahnya mengerjakan sesuatu
hal, sampai membuat Masdi tersungkur
sambil memegangi dadanya yang berdarah di
sebelah dalam, maka Yuyem akan marah
bagaikan induk harimau diganggu
bayi-bayinya.
Setiap anggota keluarga
benar-benar merasa kehilangan atas
berpulangnya Masdi. Kami semua merasa
bahwa pohon tempat kami berlindung telah
tumbang. Kami tak akan menemukan pohon
pelindung seteduh pohon yang telah
tumbang itu. Kami akan belajar dari nol
lagi untuk hidup tanpa pohon pelindung
dari terjangan badai dan hujan. Biasanya
ada anggota keluarga kami punya masalah,
maka ke tempat Masdi-lah kami mencari air
penyejuk jiwa. Masdi pun akan memberikan
apa yang kami butuhkan itu dengan segala
perhitungan yang cermat dan penuh
tanggungjawab.
"Masdi itu
kira-kira usianya berapa ya Pak?"
tanya Masmin kepada Bapak yang duduk
tepekur di samping jenasah Masdi yang
terbujur dengan tenang. Masmin merasa
bahwa usia Masdi belum cukup tua untuk
berpulang ke rahmatullah. Tapi Masmin tak
punya nyali untuk menyatakan perasaannya.
Rasanya seperti orang yang tak tahu
berterimakasih saja kalau sampai ada
seorang manusia membantah atas ketentuan
takdir yang telah tergelar di hadapannya.
Kematian bagaimana pun tak bisa ditolak
meski dengan teknik pura-pura berdiskusi
sekalipun. Orang tak diizinkan memprotes
Tuhan untuk urusan kematian baik dengan
cara tersamar maupun cara apapun. Mau
atau tidak mau, siap atau tidak siap,
kalau berurusan dengan kematian mustahil
manusia mampu membatalkannya. Mengaitkan
usia Masdi dengan datangnya ajal yang
telah menjemputnya, sungguh merupakan hal
sangat menggoda, termasuk Masmin.
"Kakakmu itu
usianya kira-kira ya sekitar 63
tahun," kata Bapak sambil sesekali
menatap wajah Masdi yang tersembunyi di
balik kain yang membungkusnya. Mata bapak
itu seolah mampu menembus kain yang
menutupi seluruh jasad anak sulungnya.
Melalui kain yang membungkus jasad yang
telah menjadi bangkai itu, bapak seperti
melihat sebuah adegan yang menggambarkan
anak sulungnya: Masdi berjalan mendatangi
ibunya yang sudah mendahului tiba di
tanah yang dikisahkan para rasul dalam
ayat-ayat sucinya. Mata bapak nanap
menekuri lekuk-lekuk jasad Masdi. Mungkin
bapak sedang mengurai berbagai kenangan
kehidupan yang telah dianyam bersama
Masdi sejak dilahirkan dari rahim ibu.
Meski bibir bapak tertutup rapat, tetapi
kenangan bapak bercerita panjang lebar
tentang anak sulungnya yang kini telah
menjadi jenasah.
"Sejak kapan Masdi
mengidap penyakit paru-paru Pak?"
tanya Masmin lirih. Ia mengakui bahwa
dirinya sembrono dengan menanyakan
hal itu kepada bapak. Pertanyaan itu sama
dengan menunjukkan dirinya tak punya
kepekaan, kepedulian, atau apresisasi
yang cukup terhadap ihwal kakak
sulungnya. Tetapi ia sangat ingin tahu
secara pasti, sejak kapan Masdi terkena
penyakit paru-paru. Informasi hanya dapat
diperoleh dari sumber yang mempunyai
otoritas yang memadai, yakni bapak yang
tahu persis perikehidupan Masdi sejak
dilahirkan dari rahim ibu sampai
saat-saat terakhir akan memasuki liang
lahat.
"Sejak kecil.
Sejak kau belum dilahirkan, kakakmu sudah
mendapat penyakit paru-paru. Mungkin
malah sejak dilahirkan, kakakmu sudah
membawa penyakit paru-paru itu. Dulu ia
pernah di bawa ke Semalo dan sembuh.
Tetapi lantaran jalan kehidupan yang
harus ia jalani tidak sama persis dengan
jalan kehidupannya di waktu masih kecil,
maka penyakitnya kembali menyertainya
sampai ia dijemput maut," kata Bapak
dengan suara datar. Siapa pun tahu mata
bapak basah oleh airmatanya yang meleleh
terus menerus sejak dikabari Masdi
meninggal dunia. Sapu tangan yang
diberikan menantu-menantunya, seolah
tidak cukup untuk mengisap airmata bapak
yang terus mengalir dari sumber kedukaan
seorang ayah yang terceraikan kasihnya
dengan anak yang telah menyertainya
selama 63 tahun.
"Apakah kehidupan
Masdi yang miskin itu yang membuat
penyakitnya tak mau pergi dari
tubuhnya?" desis Masmin sambil
menyerahkan secarik saputangan yang agak
besar -tapi juga telah basah oleh
airmatanya sendiri- kepada Bapak yang
repot dengan sapu tangannya yang
kecil-kecil. Masmin benar-benar tidak
pernah mengerti, mengapa Masdi yang
mempunyai keahlian di bidang yang
berkaitan dengan alat tenun bukan mesin,
tidak pernah memanfaatkan keahliannya itu
untuk meningkatkan kesejahteraan
hidupnya, baik kehidupannya sendiri
maupun kehidupan keluarganya. Mengenai
hal ini, konon ada yang mengatakan bahwa
Masdi merasa malu bekerja sebagai buruh
di desanya sendiri. Mungkin ini berkaitan
dengan status bapak yang dulu pernah
berhasil mengembangkan usahanya di bidang
industri tekstil tradisional. Dengan
mengerjakan buruh tenun hampir 100 orang,
membuat status bapak -sudah barang tentu
anak dan istrinya juga- meningkat ke
tataran yang lebih tinggi dari
sebelumnya. Jadi Masdi merasa merusak
"posisi status" yang sudah
didapatnya dari masa silam itu, kalau
sampai menerima pekerjaan sebagai buruh
di pabrik tenun. Padahal banyak orang
yang tahu kemampuan Masdi, lantas
menawarkan pekerjaan untuknya dengan gaji
yang cukup lumayan. Namun Masdi tidak
pernah bersedia menerima tawaran
tersebut, hanya karena suatu prinsip
tidak mau direh orang lain.
Mungkin prinsip Masdi itu aneh untuk
zaman seperti sekarang. Orang
mengorbankan kesejahteraan hidup hanya
demi prinsip yang belum bisa
dipertanggungjawabkan.
"Kakakmu itu sejak
lahir sampai ajal menjemputnya, belum
pernah merasakan hidup senang,"
bisik bapak sembari menyelamatkan api
lentera yang nyaris padam digoyang angin.
Mata bapak nanar menatap lidah api
lentera yang meliuk-liuk dengan irama
lelah. Seperti asap api yang membubung ke
atas, menerobos sela-sela genteng,
kenangan bapak pun menerobos tembok
waktu. Bayangan seorang anak lelaki
kecil, sakit-sakitan, hidup dalam
kubangan kemiskinan, harus menanggung
kesengsaraan yang tiada tara. Bagi bapak,
anak sulungnya adalah saksi sejarah dalam
perjalanannya meniti riwayat keberhasilan
dan kegagalan yang telah ia reguk selama
ini. Ia adalah bagian dari hidupnya. Maka
ia dinilai telah berkhianat ketika ia
mengemukakan rencananya akan menjual
sawah tiga petak yang selama ini digarap
Masdi dengan cara bagi hasil.
"Apakah bapak
sudah memikirkan masak-masak dengan
rencana menjual tiga sawah itu?"
tanyaku pada saat diajak rasanan
bapak. Waktu itu bapak seperti sudah
bulat tekadnya untuk menjual tiga sawah
warisan dari leluhurnya. Alasan yang
diajukan adalah kalau tiga petak sawah
tersebut tidak dijual sekarang, besok
kalau ia sudah tak ada, sawah itu akan
dimiliki Masdi seorang diri. Padahal ia
tidak menghendaki demikian. Ia ingin tiga
petak sawah tersebut tidak hanya
dinikmati oleh seorang anak.
"Kalau sawah itu
dijual, terus Masdi bagaimana? Dia itu
tidak punya sumber penghasilan lain
kecuali dari hasil menggarap sawah
tersebut bukan? Lha kalau sawah tersebut
dijual, terus bagaimana kehidupannya
maupun kehidupan anak-anaknya? Apakah
tidak akan membuat sengsara?" begitu
komentar yang sempat kuajukan waktu itu.
Dalam benakku, matapencaharian yang
menopang kehidupan Masdi benar-benar
terancam oleh rencana bapak yang akan
menjual sawah dengan alasan yang kurang
prinsipial. Waktu itu rencana tidak jadi
dilaksanakan. Namun sepandai-pandainya
orang menahan hasrat yang demikian kuat,
akhirnya jebol juga. Ketika Tuhan Semesta
Alam menjadikan ibu terkena penyakit
tumor ganas yang harus dioperasi, maka
bapak segera punya alasan untuk
melaksanakan rencana menjual tiga petak
sawah warisan dari leluhurnya itu.
"Kalau sawah
tersebut tidak dijual, maka siapa yang
akan menanggung biaya operasi
ibumu?" tanya bapak pada waktu itu.
Biaya operasi pada waktu itu sekitar Rp.
4.000.000,- Sebetulnya untuk ukuran pada
waktu itu, uang sebanyak itu bukan uang
yang sangat besar. Andaikata kami semua,
anak-anak bapak yang berjumlah delapan
orang ini bersatu padu, sepakat
bergotongroyong untuk membayar secara
patungan, maka biaya operasi ibu itu
pasti akan dapat dibereskan. Seandainya
gagasan mengangkat biaya operasi ibu itu
tidak dapat disepakati, sebetulnya bapak
masih juga menjual berbagai perhiasan
yang ditinggalkan ibu yang menurut Yuyem
bisa laku sekitar Rp. 2.750.000,- Dengan
uang tersebut, kiranya tambahan yang
harus disediakan juga tidak akan begitu
banyak. Apalagi kios yang ada di
Beringharjo, yang selama ini dipakai ibu
untuk berjualan bisa pula dikontrakkan
selama sekian tahun. Atau kalau perlu
sawah bapak yang tiga petak itu juga bisa
disewakan selama sekian tahun. Pokoknya
kalau memang alasan yang dipakai bapak
adalah untuk biaya operasi, maka
sebetulnya banyak hal dapat dilakukan.
Namun tatkala berbagai alasan itu tidak
ada yang mengutarakan, maka jatuhlah
keputusan menjual sawah tersebut. Dan
celakanya, setelah sawah tersebut dijual
ibu pun meninggal dunia.
Memang yang paling
nampak kecewa dari sekian anak-anak bapak
dengan penjualan sawah itu adalah Masdi.
Berbagai ungkapan kekecewaan senantiasa
muncul bila ketemu salah seorang dari
kami. Kami pun tak mampu berbuat banyak
untuk kekecewaan itu. Paling kami hanya
bisa memberi hiburan, bahwa Masdi bisa
mengerjakan pekerjaan lain selain
menggarap sawah. Namun hiburan itu toh
tak bisa menolong keterpurukan Masdi
dalam menjalani kehidupan ekonominya.
Akhirnya pada saat
Masdi ditawari untuk menggarap sawah Bu
Roto dengan sistem bagi hasil ia pun
menerimanya. Tetapi situasi zaman sudah
demikian banyak berubah. Harga-harga
komiditi pertanian sudah demikian mahal.
Pupuk mahal, KCL mahal, pestisida mahal,
pokoknya semuanya menjadi mahal, sehingga
menggarap sawah dengan sistem bagi hasil
sungguh tak bisa menolong petani gurem
seperti Masdi. Dengan mengandalkan hasil
istrinya berjualan lurik ke pasar lokal,
ditambah hasil kerja anak-anaknya sebagai
buruh desa, maka Masdi membereskan segala
kebutuhan hidupnya. Tidak cukup memang,
tapi harus bagaimana lagi.
Maka ketika kami
semuanya menangis mendapat berita Masdi
meninggal dunia, mungkin ini bukan hanya
tangis yang dikarenakan melihat tubuh
kurus Masdi yang telah menjadi jenasah,
tetapi juga tangis untuk sejarah Masdi
yang demikian sengsara menjalani jalan
panjang kehidupan. Mungkin tangis ini
memang tidak akan menghapus riwayat
penderitaan Masdi, tetapi setidaknya kami
merasa telah membayar ketidakmampuan kami
menolong Masdi mengentaskannya dari
kubangan kemiskinan. Padahal hanya dengan
menangis sesenggukan keadaan tak akan
banyak merubah keadaan. Saudara-saudara
sekakek yang tinggal di Solo saja, yang
dikhabari perihal berpulangnya Masdi,
juga tidak mau datang melayat, hanya
karena selama hidupnya Masdi tidak pernah
mampu hadir bila diundang saudara-saudara
Solo untuk menghadiri suatu hajatan.
Itulah Masdi. Ia diasingkan, dijauhi
orang-orang karena kemiskinannya. Ia
meninggal pun karena kemiskinannya. Hanya
kami adik-adik serahim yang tetap
menganggapnya sebagai kakak, sahabat,
kawan dan pelindung tanpa embel-embel.
Semoga Tuhan memberinya tempat yang
lapang, dan menempatkan arwahnya di
tempat yang 1000 kali lebih bagus dari
keadaannya ketika hidup.
Solo, 7 Pebruari 1999
Wieranta
ATAU
KIRIM EMAIL:

Tim
Kasih
Wassalamu'alaikum
Wr. Wb.
|