|
|
SAJAK-SAJAK ARIFA'I REPORTOAR SENIN PAGI
;kepada para pejalan sepi
prolog :
senin pagi kusapa ia,
dari bibirnya melahirkan kata 'mboh'
dan seketika detak jantungku berdetak
cepat
kata telah kehabisan tenaga
untuk mengguratkan sebuah makna. Sebuah
makna.
dan kelelahan itu telah menguras senyum
hingga keasingan menerpa kau dan aku
sementara panas masih saja panas
dan keasingan itu menelan harapan-harapan
Senin Pagi,
senin pagi juga telah tak ramah lagi
padahal hanya itu satu-satunya harapan
untuk pecahkan keheningan
dan ternyata senjata-senjata telah lebih
dulu
mempersiapkan keheningan dan keasingan
kau dan aku masih kembali seperti dulu
dalam laku dalam cita dalam
harapan-harapan
dalam denyut nadi dalam detak jantung
dalam uraian senyum dalam tatapan mata
dalam kesetian pada rembulan dan matahari
itu
ah, rembulanku masih saja tidur
dan gerhanamu kian abadi
Yayi,
perjalanan ini semakin tak mengarah
dua sisi yang kian menyimpang jauh
biarlah. Biarlah, karena cita-cita
mengarungi cakrawala masih tersisa.
Awal September 1997
JALAN HIDUP
adalah cinta yang menggerakan tangan
untuk menggapai keadaan
laksana rembulan tersenyum menyapa malam
dan bunga-bunga itu dan cinta juga
membaptiskan
segala duka hingga pagi menampar
segala diam dalam hidupnya dan aku
mencintai malam
dan cinta mengubah diri dari pejalan
malam
menjadi pejalan pagi, makan pohon hingga
ke akarnya.
Solo, 1997
KERINDUAN
dirahasiakannya kagumnya pada panas
matahari
dan nyata indah dari ia ungkapkan cinta
itu menuju
pagi atau ke haribaan dunia malam.
mestikah kita menahan rindu kita
masing-masing
walau dengan kata yang tak bersahabat
lagi
ataukah kita harus membina saling diam
kita
sampai akhirnya kita mabuk sendiri dengan
keheningan ini
tidak, kita harus bicara!
apa sajalah, tentang pertengkaran kita
kemarin
atau serpihan-serpihan rindu batin kita
yang kita rentangkan sepanjang trotoar
mestikah kita menahan rindu kita
masing-masing
walau dengan senyum yang kita kaburkan
definisinya
ataukah kita cukup saling hening menuju
perapian
rindu masing-masing yang tidak sempat
kita filekan di memori kita
sampai akhirnya kerinduan itu menjelma
musuh
yang setiap saat siap mengganggu tidur
kita
atau cukup kita biarkan saja, serpihan
rindu kita
berjalan sendiri-sendiri menuju pagi,
menuju malam
dan sampai ke muara.
Mari kita tunggu sampai kelelahan kita
berhenti bicara
kerinduan itu!
Solo, 1997
GERIMIS AIR MATA
di sela dadanya mengalir air mata
hari ini juga ingin aku menjadi air mata
menggeliat melingkari sela dadanya
ah, perempuan itu kemarin malam baru
lahir
mana sempat kuciptakan berahi tentang
perjalanan malamku
tapi ada baiknya, bila kupantulkan wajah
ini di cermin
biasa saja. tidak pada kebringasan juga
pada keramahan
tiba-tiba aku ingin senggamai ia
tapi bukan karena berahiku yang kusimpan
lama
telah kubuka kancing bajunya dua-dua
karena jariku lincah
dan kusingkap lembut tipis bulu dadanya
menggetarkan malam dan matahari menangis
ah, tidak!
karena baru kemarin sore ia telanjang
tak memanggil apa-apa dari indah bibirnya
dari manis parasnya, ya, tak memanggil
apa-apa
atau aku sudah tak menyimpan rasa itu
lagi.
o, perempuanku yang dipeluk malam
tidak akan ada matahari menembus kulit
mulusmu
atau asap kendaraan yang mengotori
sumingrah wajahmu
ya, mungkin malam ini telah kauciptakan
mantra
untuk kausemaikan di hadapan rumahku
ternyata, aku masih mencintainya.
Solo, 1997
RINDU BUKIT KALISORO
di balik jalan diamnya
ada nyanyian panjang untukmu
yang ia lantunkan setiap malam menjelang
tidur
dan pada akhir nyanyiannya
ia berucap lirih
"ternyata aku masih
mencintaimu"
ia ciptakan jarak yang jauh antara
harapan dan nyata
sementara hening yang menerpa menyayat
impian
yang ia coba untuk musnahkan dengan api
unggun Kalisoro
di balik gelagar suaranya yang menembus
bukit-bukit Kalisoro
ada sentuhan dalam yang mampu menyibak
mata hati
dan intan yang tak muncul saat kapanpun
ia hendaki.
karena dingin telah membekukan gerhana
itu
ia terkulai dan pasrah pada langit yang
mamayunginya
dan kini kau bermain-main padanya,
lelaki tegar dalam langkah cakrawala
Solo, 1997
HANYA TINGGAL KITA BERDUA
telah tak ada siapa-siapa
angin telah kutikam semalam
pohon-pohon telah tak mau menjadi saksi
hanya tinggal kita berdua
bara unggunan api pun tak sangup lagi
membakar dinginnya kau dinginya aku
ya, hanya tinggal kita berdua
membenci kesepian
ah, kesunyian itu hanya kau cipta sendiri
kau bangunkan hening dari tidur
panjangnya
hingga mereka mengurai kabut
mencipta rentang dengan perkasa
dan kau bermain-main dengan matahari
ah, apalah! matahari itu
tetap saja merindu
kurahasiakan pada kabut Kalisoro
tetap saja mencinta
kusembunyikan pada badai Kalisoro
waktu akan kembali
kembalikan rindu itu kembalikan cinta itu
pada matahari
Solo, 1997
LELAKI EMBUN
:bagi seorang Fuad
dinginkan jiwa-jiwa bara
dengan tawamu atau panasmu
menerpa cinta ikhlas
menyapa nurani kemarau
dan berjalan dengan angin pagi
Solo, 1997
PULANGLAH
yayi,
pulanglah ke desa
karena kota bukan tempat kau bersenda
bukan tempat kau bercinta dengan alam
raya
kota bukanlah alam raya
ia adalah makhluk asing diciptakan sang
zaman
pulanglah ke desa yayi,
ladang menantimu
rembulan merindukanmu
desir angin hendak menyapamu lagi
pulanglah, yayi, pulanglah
yayi,
mesti tak kau temu sapa senyum
karena di kota ia menjadi barang mewah
pulanglah yayi,
kutakut kau jual juga cinta kita
seperti kau menjual bibirmu
juga seperti kau menjual rokmu dengan
jean belel
produk zaman purba
o, yayi, pulanglah
telah sekian ratus tahun ku menunggu
senyum menyapa indah pagi saat embun
mencinta dini hari
juga kutunggu sapa maghrib mengajak kita
berbakti
kepada negeri bukan kepada ibu tiri.
Solo, 1997
KEMATIAN MENJELANG SENJA
Kematianku menjelang senja, menunggu
mentari berubah warna hingga aku
mencintai kematian itu. Dan tubuhku
ditaburi bunga berupa warna. Saat sebelum
itu aku tahu bunga-bunga sudah tak
berupa. Senja mengirup udara rasa dalam
kehidupan perempuan itu. Dan ia
bergerhana dengan lain matahari. Tidak!!
Bukan aku mabuk atau segala. Tapi itu
rasa. Jadi biarkan saja ia melalang ke
segala arah mata angin. Menuju perapian
menghangatkan seluruh tubuh.
Ia tertatih-tatih menempuh terjal
perjalanan yang saatnya belum ia tempuh.
Ia bercerita pada rembulan yang mengintip
perjalanan itu. Adakah arti bagi ia
rembulan itu?
Oh, kucintai ia sepenuh gelas yang kuisi
senja hari. Saat malam berkelana aku
mencoba berpaling darinya dan lelahkan
diri mencapai esok pagi. Esok tiba aku
berdiam dan bersepi hanya dengan cinta
yang bentuknya semakin tak kumengerti.
Malam mengadiliku dengan tanya-tanya yang
memusingkan. Mungkin siklus itu
mengajakku kembali. Sehingga pedih yang
terasa harus dihapus dengan pedih pula
bagi siapa. Entahlah. Biarkan waktu
memberi jawab. Rindu itu semakin erat
mendekap, dan aku luluh dalam
pandangannya. Kugapai maaf darinya. Tak!!
Tak cukup itu!! Dilema menjelma neraka
yang manghanguskan seluruh jiwa.
Solo, 1995
WANITA TELAGA TAK PERNAH MENGALIR
kebeningan airnya membuat nuansa pagi
semakin ribut akan angin yang menembak
segala penjuru sukma. terkapar dalam
dekapan bening itu. Diam membendung sepi.
Mencintai kebeningan untuk menyirami
bunga yang telah dipanasi oleh mentari
lain. Bergerhana di kursi yang kupandang
dengan mata hati. Sedih? Tak!! Terlalu
pagi untuk menyapa, Selamat malam,
Kinasih!!! Dentum itu menjadi bunyi
paling akhir untuk menyapa cinta di pagi
buta. dering hati
menyibakan selimut rindu yang engkau
dengkap erat dengan rasa yang tak
kumengerti.
Kerinduan mendekap pandangan itu memuncak
pada bening yang tercipta hingga aku
lelah dalam dekapan sendiri.
Solo, 1995
AKU
aku masih setia dengan kebingungan ini
walau senja telah memanggilku keras
mengajak bersenda dengan malamnya
melupa siang dan segala peristiwa
karena kata-kata telah kehabisan tenaga
dan putih sudah tak putih lagi
aku masih setia dengan kebingungan ini
karena kau telah mengurai kain hitam
kemarin
dan hari ini kau gelar kain putih
esok mungkin kau akan mementaskan lakon
yang semakin mendekatkan pada kebingungan
ini
aku masih setia dengan kebingungan ini
mungkin cakrawala akan kugapai
saat rembulan terlena dengan puisi-puisi
tidak. aku sudah tak mampu menulis puisi
karena puisi juga telah mendustaiku
dengan keromantisannya aku terlupa
bahwa aku masih merasakan terik mentari
seakan memberi bara dan menjadi api
Solo, 1996
WAKTU II
menyayangimu selama mentari
duduk di kursimu
menyinta dengan busana menuju surga
ya, senja betul-betul mengajak istirah
dari pelayaran jauh ini
hanya engkau cahaya
saat malam membenciku
keberangkatan dari subuh menjelang
menuju siang hingga senja mengajak
istirah
biarlah, kembang itu tak harus kumiliki
atau nanti, entahlah.
yang pasti aku masih menyinta
ya, aku masih menyinta
oh, dermaga mana lagi
yang harus kusinggahi
lepaskan lelah ini
kemaskan rindu ini
pada laut ?
pada bulan ?
tak. ia masih dibalut malam
Solo, 1996
SELAMAT PAGI, KAWAN!
laparku masih mngering
dan tangisku tak kunjung reda
bagai laut kusapa senyummu
dan dalam hening kunikmati engkau
gerimis membasahi diamku yang legam
cinta tak lagi bernama cinta
saban angin menyebut namaku
dan aku menoleh, mencoba mencintainya
dalam aku berkaca bahwa sepi memeluki
erat
hening tak menemui jejaknya kembali
kucoba mencintai diriku dan akhirnya
kutemu
engkau dalam limpahan kasih tangan
senjata
kuteriakan selamat pagi pada matahari
dan kucium senyum rembulan rembulan
Oh, perempuan yang ditikam malam
pagi akan menyapa kau saat kau masih
lelap
menghela keringat mimpi panjang itu
kuterjemahkan senyum itu bagai pedang
pada aku lengah, tersabet leher hingga
dua
dan ia telah menjadi sosok di malam
dan cinta itu menjadi aku
Ibu, pintamu belum terpenuhi
karena hari telah menjelang
aku hampir terkapar di bawah pohon
kehidupan ini
Mungkin perjalanan ini belum juga usai
hingga hati menjadi dermaga
Solo, 1996
PERKUTUT DI BELAH MALAM
kesepian dipecah dering telpon
terpental keping hati di malam yang jauh
yang kupeluk adalah kata-kata
bukan senyum atau langkahmu
matahari mati menunggu cinta yang
kautawarkan
ada cinta di balik jendela
dan di bawah kursi ada nafsu
turun dari bis kota
kusapa wanita lalu kucinta
berpeluk di bawah sofa bapak
Solo, 1996
DERMAGA
kurasa, aku bukanlah dermaga yang kau
impikan
penuh warna lampu berkedip mengerling
sampan
tak! kutahu kau butuh kapal bukanlah
sampan
dan kini aku ingin berlabuh di dermaga
itu
menghentikan pelayaran jauh ini
menuju istana penuh suci dan aneka bunga
jangan ada dermaga lagi dalam pelayaran
ini
kutahu pelayaran menuju senja
bukanlah harapan bertemu mentari esok
untuk menuju pelayaran baru
senja telah mengajakku istirah
dari mengayuh sampan kecil ini
menuju perjalanan abadi
menuju dermaga paling akhir
Solo, 1996
SKETSA SEBONGKAH JIWA
dilabrak angin pagi
aku terkapar dalam dekapannya
mencoba mencinta
kekalahan menjadi dermaga
buanglah aku pada sungai kebencianmu
hingga aku lelah 'tuk mencapaimu
cambuk aku dengan malam pekat yang kau
cipta
hingga aku lebur di kehitaman cakrawala
jiwa ini tak pandang
bahwa kau telah bergerhana
sampai kapan penantian ini
selaksa puisi telah kutebarkan pada
horison itu
menunggu keceriaan pagi
hingga lonceng berdenting sendiri
Solo, 1997
PERTEMPURAN
-- kado ultah buat Mas Amin
elegi bagi Ida Iyiq
di gurun kucium parfummu
merebak merasuki jiwa yang melatah
pagi itu telah kutelusuri tanah subur itu
bersama angin siang kuteguk setetes air
yang muncrat dari relung hati yang
memberi makna
tak ingin aku mengangkat senjata
untuk memulai pertempuran ini
karena ini kau sediakan ayat-ayat
atau firman tuhan untuk kita reguk
bersama
ah! angin kurasakan tak sejuk lagi
Solo, 1994
Sajak ARIFA'I
PENERIMAAN
selamat pagi
telah kusiapkan roti sarapanmu
dan segelas susu untuk kesegaranmu
tak berharap apa-apa darimu
karena memang tak ada yang diharapkan
hanya keikhlasan menerima adaku
menerima keakuan seperti engkau menerima
adanya angin
seperti menerima adanya laut
seperti menerima adanya matahari
pun demikian aku
tertoreh
cinta itu pada daun keladi
pada bekas musim purba
yang kau peruntukkan bagi siapa saja
yang lewat depan bibirmu
yang hendak kau cintai dengan ikhlas
cintailah aku dengan egoismu
dan kemudian campakanlah aku
pada selokan depan rumahmu
karena kutahu rumahmu tak siap
menerimaku dengan ikhlas.
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
AKU TIDAK TAHU APAKAH AKU MENCINTAIMU
kamar itu selalu saja menyeretku pada
kesendirian
tak meminta apa-apa bahkan memberiku
perenungan
dan duduk di sampingmu sama saja menikam
ulu hatimu
dan jangan kau percaya bahwa aku selalu
mencintai
karena cintaku tak kan bisa memberi
apa-apa
kecuali kesengsaraan dan kenistaan
kemanusiaan
angin telah mempurbakan segala pikiran
sementara musim dingin belum juga lewat
hanya serpihan rindu ini manggaungkan
kesetiaan
sementara gerhanamu semakin menemu bentuk
ah, perempuan yang belum berkutang
cakrawala ini belum sampai pada tuannya
masih mengembara menelusup pada jantungmu
pada ketiakmu dan mengkutangi tetekmu
kini berahi kita belum tiba
kita menunggu dan menunggu
mungkin penantian ini akan menjadi bijak
karena kita kenali mereka dengan tulus
ikhlas.
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
BIARKAN SAJA
biarkan saja aku
kesalahanku dalam kesendirian
demi keindahan masa depan
kuminta benar padamu
karena asa-lah yang membuat
tunggal batinku batinmu
biarkan saja aku
dosaku dalam hening
jangan desak aku
untuk mengakui kebenaran
karena penderitaan membukakan mataku
dan air mata memberiku penglihatan
serta kesedihan mengajariku bahasa hati
biarkan saja aku...
Solo, 1994
Sajak ARIFA'I
PENANTIAN DI CAKRAWALA
kudatangi malammu
kau datangi malamku
dengan wajah tak bersenyum
kau diam tegak menghadang mimpi
yang susah payah kubangun sejak abad lalu
dan malampun telah membunuh matahari
hingga kau berkelana dalam mimpi
panjangku
sinar matamu kau simpan di balik kelopak
nadi yang bergetar kurasakan dalam denyut
ingin kuucapkan kinasih buat alam abadimu
tapi ku takut kau terjaga dari
persahabatan ini
dan lagi aku tak mau ciptakan riak
dalam tali hatiku dalam tenang danaumu
malam ini malam yang ke sekian
masih kutunggu kau di persimpangan ini
Solo, 1994
Sajak ARIFA'I
PERKAWINAN
apa gunanya upacara
sementara hati terbang ke lain samudra
berkelana menemu serpihan rindu baru
bercinta dengan oase dan fatamorgana
apa gunanya upacara
sementara kemenyan belum kau siapkan
dan kembang tujuh rupa belum kau taburkan
cinta tak kenal dengan upacara
apa gunanya upacara
ringan-ringan sajalah
untuk memulai pergulatan
karena tuhan tak suka kemenyan
dan kembang tujuh rupa
cukuplah
dengan sepatah atau dua kata
dari seorang ulama
untuk bekal kita di samudra
Solo, 1994-1997
Sajak ARIFA'I
SKETSA ZAMAN PURBA
gelas separoh terisi
mengandung kehamilan kata-kata
menjemput kesimpulan-kesimpulan yang ada
bahwa keris dan politik
telah menjelma neraka
tarian gadis desa merajai pikir dan sukma
sehingga koran-koran telah kehabisan
berita
karena kata-kata telah tak menjadi
senjata
dan bahasa kehilangan norma
mari, kutelan kau semua, kata bangunan
tua
pada hijau kota yang meronta
kehabisan tenaga dan desir angin
mencinta atas rupa
;berhala dan monumen-monumen kota
mari bercinta, sapa pecinta neraka
menelajangi asmara hingga pagi buta dan
celana kita
tercecer di beranda villa tua
dan sperma-sperma mengalir di selokan
kota
menjerit mencari papa-papa mereka
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
SAJAK LELAKI
berjalan sendiri dengan embun pagi
mengitari bundaran harapan hingga tiba di
perapian
penghangat kesejatian cinta dan lelah
menerpa angin pagi
koran telah memberitakan lelaki bunuh
diri
menelan harapan-harapan dan impian-impian
sementara jalan-jalan semakin tak
bersahaja
mencari perkara di atas perkara
mengelabui pikiran-pikiran yang dikemas
dalam neraka
ah, bercinta sendiri dengan malam
bersenggama dengan tidur panjang dan pada
akhirnya
melahirkan jutaan tanya. menampar jidat
tak menemu jawab
hingga koran kembali beritakan lelaki
bunuh diri
dengan menelan harapan dan impian
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
PERTOBATAN
belum sempat juga kugelar pertobatanku
padahal sisa waktu hanya sedikit
dan pertanyaan-pertanyaanmu semakin
mencercah
ancaman-ancamanmu kian dekat dan mengajak
segera
pertobatan ini laksana berdiri di
penyeberangan
melangkah maju atau tetap berdiri hingga
matahari mati
mengapa sang pertobatan belum juga
bersahabat padaku
padahal kematian kian ramah dan bersahaja
salah satu malaikat petugasmu tidur pulas
di pundak kananku
ia kehilangan pekerjaan atau catatannya
ditetesi hujan
ah, malaikat tak ada yang sudi disogok
kasihan benar yang di pundak kiri
ya, semut, ya alam raya
tuntun aku padamu hingga kutahu rasa
terima kasih
dekatkan jiwa ini pada penciptamu
hingga kumengerti rasa balas budi
ah, pertobatan belum juga datang
akan kucari kau ke seluruh mata angin
ya, aku berangkat sekarang!
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
SAJAK LELAKI ANGIN
;bagi Wan Anwar
Mendesir pohon-pohon dan menyibakan
dedaunan
melanglang ke setiap ruang dan bercinta
dengan waktu
letakkan kata di mana saja
dan bersenyum semua keberadaan
ketika pintu menderit
bersahaja dengan permisi
membuka cakrawala tak menemu luka
bercumbulah dengan apa adanya
hanya engsel jendela memberi tanda
dan percumbuan harus diakhiri
walau tanya-tanya itu ditanyakan lagi
lelaki angin bercinta dengan angin
dengan birahi malam yang dipendarkan
lewat jendela
kadang disimpan saja dalam disket-disket
kasihmu
tembus mimpi yang tegak menghadang
tidurmu
dan rajut lagi hingga menjadi kenangan
dan lahirkan puisi
ya, penyair yang gila warna
lalu simpan kemenyan dan sembunyikan
kembang tujuh rupa
berkelana lagi dengan istri pertama; kata
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
MALAM MENANGIS LIRIH
:bagi pejalan sepi
impian yang merajai tidur malamku
berjalan sendiri di sela pepohonan
dan desah yang menghadang harapanku
menjelma sumur yang tiada berair
baiknya kita rajut lagi impian kita
yang tercecer di ranjang tidurmu
dan siapkan ranjang bayi
untuk persiapan tidur panjang
;harapan-harapan telah terbunuh pagi tadi
dini hari angin sibuk menyiapkan sarapan
sementara malam kian nampak murung
dengan tanya-tanya dan lenyap sebongkah
batu
dari dekapan pandanganmu
telah tak mungkin aku mencintai batu
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
HUJAN DI MATAMU
perjalanan adalah cinta pada bunga
yang mekar saat embun menjatuhkan
butirnya
dan bunga itu bersemi kian malam
tapi malam pun tak pernah ramah
cinta adalah setubuhi bulan dengan
kelamin yang
melahirkan berjuta bibir hingga ranum
ditelan pagi
tak mungkin bau sawah menuju rumahmu
lenyap dengan sengaja dibalik senyum itu
dan engkau masih saja berdiri di bibir
malam
sementara malam telah lelah mengayuh
impian
membaluti tidurmu yang panjang
hujan mengajakku singgah sejenak
walau persinggahan itu tak beranjak dari
niatan
dan kau telah siapkan segelas kopi
dan aku pun menjadi tamu
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
CERITA LIRIH DEDAUNAN
dari angin yang mengirim fotomu
ku tahu kau mencintaiku. dengan langkah
dedaunan
kau bercerita pada pepohonan
bahwa kau juga telah merindu
dengan rapi kau sembunyikan semua
dari derita yang tiba-tiba menghantam
dilema yang tak kau inginkan begitu saja
menelusup dalam benakmu
hatimu hendak singgah dalam angan-anganku
mengisinya dengan nyanyian sunyi
dan keheningan membawa kita pada puncak
birahi
lalu melahirkan anak-anak kita dan
kita pun mengangkangi zaman
demi cahaya
demi sunyi
demi tangisan mereka
kita cinta
mereka lahir dari cinta
dan membawa harapan-harapan
yang belum sempat kita wujudkan
walaupun waktu telah kita lahap beratus
menit
berjuta jam dan berabad hari.
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
PAGI
pagi telah menyimpan kedukaannya yang
dalam
sementara tetap tersenyum pada bulan
dan tiba-tiba kumbang itu tercium olehnya
dan tiba-tiba aku ingin kembali ke tanah
putih itu
terbelenggu kasihku kasih yang menembus
pelangi
menjutakan cakrawala dan larut lagi
hingga malam
masih saja lewat jendela
Solo, 1994
Sajak ARIFA'I
PERCINTAAN DI MALAM BUTA
matahari mandi di selokan
dengan air comberan
ia bertahan memberi cahaya
dan berterima dengan tak cinta
karena cinta telah berubah
dengan lembaran rupiah
telah bercahaya dengan remang
perjalanan berabad dari dunia purba
menuju ke keabadian cinta kasih
hingga lahirkan luka
menganga dan dibaluti malam
sementara perjalanan menuju
abad otakmu kian muram
karena jujur telah kau transaksikan
dan keikhlasan menjadi barang mewah
keadilan telah kau sembunyikan dalam
lemari besi
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
MAAF, ENGKAU BERKATA BOHONG
cintai saja bulan pada petang hari
karena engkau paling murka pada matahari
dan telah dia tebarkan wewangian
pada samudra laut selatan
ternyata cintanya sampai juga pada laut
dan pada bulan dan tidak pada matahari
ah, cinta adalah perjuangan menuju
kemerdekaan abadi
kedamaian dalam kesejatian
telah kupanasi engkau dalam malam itu
dan kubakar kembali bara yang hampir
padam
malam yang ke seratus jumlah
aku masih saja menyimpan pagi
dan embun itu belum menguap
masih menyejukan alam rayaku
Solo, Oktober 1997
Sajak ARIFA'I
CINTA ITU CINTA MALAM HARI
aku merayap dalam senyummu
aku meraba kata dalam matamu
aku tebas ilalang penghalangku
aku menyatu dengan angin jiwamu
aku menyatu dengan engsel pintu kamarmu
aku harus berjalan di samping kananmu
aku harus bersisihan denganmu
aku merindu derit jendelamu
aku ada dalam apimu
aku menjelma mimpi dalam tidurmu
aku menjadi kendaraan dalam perjalananmu
aku menjadi pedang dalam bahayamu
aku ada dalam keberadaanmu
akhirnya aku harus mencintaimu
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
GEMERICIK KALI KARANG PANDAN
malam mengayuh langkahnya sendiri
gemericik kali sebuah desa di Karang
Pandan itu
telah menerjemahkan impian-impian yang
kabur
dan hujan pagi di hari Minggu itu
akan mengantarkan dingin pada teras
rumahku
aku ambil dan kutulis sajak
tentang perjalanan sepi sejak dini
dini hari kita belum juga selesai bicara
dan ia lahirkan harapan
seolah dengan sadis membunuh impian
kata yang kau lahirkan
akan terekam dengan indah
walau terkadang tangis juga mencipta
mimpi
dan malam Minggu itu tak lahirkan kata
apa-apa
sementara kesejukan rumah itu masih saja
lahirkan tanya
menggoreskan impian selaksa bunga
dan kau biarkan daun jendela terbuka
derit pintu masih saja bersahaja
Solo, Oktober 1997
Sajak ARIFA'I
DI DEPAN RUMAH TUA MENYIMPAN BELATI
lingkar bundar matamu mengasingkan derita
pintu
dan daun jendela memberikan semilir suara
malam
dan nafsu yang mendua seketika kau
tikamkan pada batu
berbisik dengan gemiricik suara kali
menebarkan
wewangian yang belum sempat dikirimkan
lewat gerbang suara
dari panjang jari tanganmu cinta seolah
telah kau hidupkan lagi
walau terkadang pagi muram mencipta
sejuta sajak yang butuh darah
hingga mengotori teras rumah tua yang
belum dikapuri
dan nasib kau pasrahkan dalam salah satu
kamarnya
di kamar pekat itu banyak belati
menyimpan tetes darah
segar. ya, peristiwa kematian tercipta
begitu saja
dalam gelap belati menguliti dinding
kamar itu
meraung pecahkan batu-batu pinggir kali
air mengalir tak mencipta gemericik lagi
kehilangan nada-nada hingga gerak rupa
semakin hilang bentuk
kini rumah tua yang kehilangan tangga
tahu diri
satu-satu diterbangkan malam hingga pagi
cemburu
dan belati berhenti menguliti dinding
pagi itu
salah satu kamar yang lain sibuk
menyiapkan sarapan
dan lainnya tergesa mencari keranda
sebab sepagi tadi terjadi peristiwa
kematian lagi
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
KEMATIAN ITU SENIKMAT SEBATANG ROKOK
sebatang rokok lahap menciumi bibirmu
mengendap dalam darah yang telah mencinta
membelai paru yang kehabisan tenaga
hingga diam merajai ruang diskusi itu
segelas kopi berjalan dengan sombong di
tenggorokan itu
menelusup mencintai jantung yang bergerak
tak bernada
mengulitinya dengan belati hingga nafas
mencintanya
dan pikiran itu meloncat dari gunung ke
gunung lain
segelintir waktu mengajak istirah dalam
tidur panjang
mencoba mencintai tanah merah dengan
nisan emas di atasnya
menemu surga dengan para malaikat
bertanya
lewat jalan mana kau menuju ke sini?
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
TAK ADA WAKTU LAGI
malam hanya menyisakan sedikit senyumnya
dan separoh perjalanan menghabiskan
harapan
untuk membina kembali serpihan perjuangan
puing-puing merdeka yang poranda oleh
angin malam itu
masih saja bernama kecil berjalan sendiri
menyisiri aspal yang berlobong
kecil-kecil
tak ada waktu lagi dalam persiapan cinta
hanya empat puluh lima menit dalam
bersihkan nurani
singkirkan saja dulu yang dua, tiga
dan harus kembali satu, mencipta yang
hampir selesai
menuju perapian mencari bara
perbekalan di belantara yang selalu haus
duka
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
PAGAR RUMAH
kau dirikan pagar lewat kata di telepon
itu
agar angin tak masuki jendela
mendinginkan suasana
dengan leluasa kau buka jendela dan daun
pintu
karena pagar telah tinggi kau dirikan
kau katakan juga bahwa keterikatan akan
merajai
kata itulah yang membuatmu terjerat
dalam ikatanmu sendiri
pagar itu telah mengikatmu dengan sungguh
robohkan saja pagar itu
angin tak akan mengikatmu
buka saja jendelamu
karena malam akan memberikan cinta
dan kau bisa terbang dengan leluasa
bercanda dengan bunga dan tiupkan lilin
dalam hening itu. hening.
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
CINTA DIBALUTI BELATI
angin telah manampar lembah hatimu yang
jauh
memerah diam merunduki sepi dan hening
menghujat
sehingga kaleng-kaleng pinggir rumah kita
berdentingan
mengeja langkah demi langkah dalam awal
sebuah perjalanan
perjalanan yang jauh dan letih,
menyebalkan dan gairah
tak singgah barang semenit. kelelahan
pada puncak birahi
hingga derit daun jendela tak terdengar
lagi
menangis dan mencaci malam yang tegak
menghadang mimpimu
ibu pertiwi menangis tersedu ketika
lahirkan bayi kembar
yang satu tanpa telinga hingga tak mampu
mendengar
yang satu lagi tanpa hati hingga tak
mampu merasa
dua otak yang ada berpikir cemerlang
menjelajah dunia strategi dengan cinta
yang dibalut belati
ibu pertiwi menangis tersedu yang dalam
mencoba mencintai anak-anak yang mampu
mendusta
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
ANGIN MENIKAM MALAM
dengan langkah tergesa kau meninggalkan
kata
menembus pepohonan mencari media hingga
kau temu rupa
bermesra dengannya dan akhirnya kembali
bosan merajai
dan kau mencari makna di antara
kotak-kotak serta
serpihan daun semangka hingga kembali
menjadi kata
luka daun kemboja mengiris tanah
hingga membentuk arah angin
membelai pepohonan yang meninggalkan
tapak kaki sejarah
pengulangan yang semestinya bukan
pengulangan
lalu mengapa sang pagi menangisi senja
dalam duka malam yang panjang
ada cinta yang berderet di
jendela-jendela
dan derit daun pintu pun telah tak mampu
menulis sajak
tentang kabar angin yang menikam malam
meneteskan darah membasahi tanah merah
itu
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
PAGI MENAMPARMU
kau panjatkan do'a dengan wudhumu
hati kau terbangkan dengan tahajjudmu
kata telah kehabisan tenaga
untuk menguraikan segala resah
yang sejak dini hari membaluti tanya
dan cahaya bulan pun telah menjawab semua
bersimpuh di atas batu tua dengan kain
tua
sujudkan hati dengan cinta
dan larutkan jiwa pada-Nya dengan mesra
terkadang pagi menamparmu hingga merah
berkuasa
lalu siang hari memberimu peluh kesadaran
sampai senja yang akan menerimamu dengan
cinta
dan malam memberimu mimpi lagi
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
LUKA MASJID TUA
adzan yang kehabisan tenaga
masih setia gaungkan waktu
walau sepi tetap saja menyapamu
tapi ia tak berduka
dindingmu luka satu-satu mengelupas
dan nanah serta merah darah menetesi
lantaimu
tidak memberi syarat tentang kematian
karena tuhan masih menyinta
malam merambati tiang-tiangmu
dan manusia pun tak bergeming
walau kata dan waktu memberikan nada
tetap latah dalam kesendirian zaman
luka masjid tua tumpah di senja zaman
tercipta angin menampar bianglala
dan cakrawala mencipta pelangi
hingga mati memanggil satu-satu
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
KERUDUNG PUTIH
kerudung putih indah di senja hati
jilbabi nurani kerontang yang dibelai
zaman
dan musim purba menjelma trend masa kini
mencintai benda masa lalu
menyanyikan lagu merdu
dengan syair ayat-ayatMu
sujudkan cinta pada bumi
lantunkan do'a dengan hati
kau temui Tuhan tak sembunyi
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
RANJANG DAN KAMAR TUA
malam itu hotel telah merebahkan nafas
kita
di ranjang tua berderit dengan gorden
sedikit terbuka
dan cahaya bulan yang mengintip lewat
jendela
kau berkata, "Kita telah tua"
kujawab dengan alunan cinta yang didekap
malam
"Usia adalah perjalanan paling
pendek di luas samudra"
malam merangkak tanpa terasa
dan pendingin kamar kau besarkan setengah
putaran
dinginkan tenaga kita yang terkuras di
ranjang tua
masih indah bibirmu di cermin tua
dan ranjang tua tertawa kala pujian
menampar telingamu
ranjang tua lahirkan berjuta cerita
pertunanganmu yang tertunda karena
ranjang tua
kau labuhkan buah dada di sprei putih
menyentil hidungku
lalu kita bercinta lagi dengan kata
ada baiknya kita tutup diare kita
karena malam telah tak ramah
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
JAKARTA I
angin enggan untuk singgah sejenak
padanya
sekedar memberi harapan sekejap
dan waktu terseret dengan tergesa
hingga tak menemu cinta
dan rumah-rumah berlari mengejar
impian masing-masing. Ada baiknya
angin tak singah lagi. Tak ada wanita
yang berkutang karena habis terbakar
matahari
Malam yang kau siapkan menjelang tidur
terbaring lelah di trotoar kota
dan pagi masih malas untuk menyapa
Jakarta, 1997
Sajak ARIFA'I
JAKARTA II
:bagi Helena Rebecca
malam yang hampir tua itu
kita memulai segala sesuatu
bertanya dan bersiap hendak berangkat
menuju impian dan kenangan
yang telah kita bangun sejak malam itu
kita mulai saja atau kita tetap di sini
duduk dengan malam yang buta atau kita
harus bercinta dengan impian-impian kita
masing-masing. Laut dan pepohonan
akan menjadi tak berarti karena
angin tak sesegar saat kita memulai
dan malam itu tak ingin jadi saksi
lalu hanya kursi dan kotak nasi di meja
tua itu
yang akan memberi jawaban atas pertanyaan
kita
ke arah mana kita mesti melangkah
:ke samudra atau ke poros matahari
Jakarta, 1997
Sajak ARIFA'I
JAKARTA III
:bagi M. Rahmat Yananda
terima kasih bukumu
dan keabadian akan merengkuh kenangan
kita
walaupun pembacaan atas alif
dan lam kita berbeda serta mengucap
bismilah di pagi yang berurutan
Tapi kau mesti belajar tentang geografi
iqra atas budaya dan mencintai dengan
hati
karena malam tak akan mengajak
kau istirah. Dan Sang istri telah
bermimpi
saat lelahmu menjadi raja di kamar tua
kota ini tak akan mengajarimu
tentang sopan santun dan akan memberimu
waktu yang tergesa. Karena anak-anak
belum
lahir dan sisa waktu masih sempat untuk
bercanda. Ya, ternyata kau harus bercinta
lagi dengan Sumatra, Kalimantan dan pulau
lainnya. Karena di sana manusia masih
berharga
mahal serta cinta masih seperti pepohonan
perawan dan hijau.
Jakarta, 1997
Sajak ARIFA'I
JAKARTA IV
:bagi Erni
tak ada kenangan dari kata yang kita
ucapkan
sore itu. Hanya bertanya tentang kota
yang
mengotori cermin rumah kita hingga tak
mampu lagi mengaca. Meratapi
ketidaktahuan
rupa dan wujud bola mata kita. Asap
kendaraan
terlalu kejam untuk sekedar memberi debu
pada kaca jendela yang diterjemahkan
cinta yang
telah membuka pintu masing-masing.
akankah kita mulai dengan telpon saja
atau
sebuah perjumpaan telah menjadi hina di
kotamu?
Telpon di rumahku terlalu berat untuk
memulai
bercanda dan telpon rumahmu sudah tak
mampu berdering
karena masih bisa kita lakukan di kota
kecil-- Solo
karena kita belum kehabisan kata untuk
menggauli
setiap rayuan dan menemani senja yang
hampir tua.
Jakarta, 1997
ATAU
KIRIM EMAIL:

Tim
Kasih
Wassalamu'alaikum
Wr. Wb.
|