SAJAK-SAJAK
ROMANTIS ARIFA'I
SAJAK
DO'A UNTUK KEKASIH
Oleh Arifa'i
kulumat sebaris ayat-Mu
untuk mengantar kekasih
ke medan
pertempuran antara
kehidupan nilai-nilai
kulantunkan
firman-firman-Mu
untuk kusebarkan ke
segenap jiwa
sang kekasih. agar ia tak
rasakan panas
tak rasakan dinginnya
dingin
ku berlari ke bibir
sungai-Mu
untuk membasuh sukma
tercemar
biar aku ikhlas dalam
memperpanjang
sujud-sujudku. menggelar
sajadahku.
Bengkulu, 1999
Sajak ARIFA'I
JALAN ITU JALAN KEMATIAN
saatnya aku mencintai
kematian
mengulangi peristiwa
malam yang rindu bulan
pagi mengantarkan mimpi
hingga sampai ke muara
dan muara menyebarkan
cinta itu ke pangkuanku
lagi
Ibu,
belum sempat kusampaikan
maaf padamu
karena waktu yang sangat
membenciku
dan ruang tak memberikan
sisanya
kini malam semakin
menjadi selimut saat ku
istirah
sementara pertobatan
belum juga usai kugelar
semakin panjang dan
semakin panjang urainya
Ibu,
nyanyian yang kau
tuliskan pada telapak
tanganku
telah tercemari
nafas-nafas waktu
dan pandangan mata
setianya telah menjadi
api
membakar nurani hingga
lebur dan menguap entah
kemana
September 1997
Sajak ARIFA'I
SOLILOQUI SENIN PAGI
= kepada hatiku sendiri
ya, dia terlalu manis
buatku
tiba-tiba aku ingat
Salvador Dhali
pelukis Spanyol yang
begitu mencintai istrinya
terlalu sayang baginya
untuk senggamai istrinya
terlalu cinta baginya
untuk sentuh lentik
jemari istrinya
ya, semua terlalu baginya
untuk perlakukan istrinya
ku takut akan demikian
kucintai dia biarlah
dalam jauh
kukagumi dia biarlah
dalam diam
karena kata-kata telah
tak mampu mewakilinya
dan lagi tugasku belum
selesai
mengembarakan nurani ke
cakrawala paling akhir
ya, ia terlalu manis
untuk kumiliki
terentang jarak yang
mengkelamkan pandangan
dan cinta membutakan
mimpi-mimpi yang
kubiarkan berkelana
aku yakin waktu akan
menguapkan perasaan ini
karena gerhana itu telah
kian abadi
tapi mengapa masih saja
kusimpan
malam yang mencoba
mengkhianati
padahal ia telah
mempurbakan pikiran
dan ladang garapanku
sejak kemarin
Agustus, 1997
Sajak ARIFA'I
RIMBA RAYA
nafas tubuh-tubuh ini
terengah-engah
menahan dentuman para
penyanyi di atas panggung
luas ini
dan satu-satu tiangnya
retak, goyang menggoyang
hingga hampir roboh
karena jiwa di atasnya
telah menjadi tong
sampang
sementara bau-bau sepatu
telah menyebar ke seluruh
kota
mencemari gaun-gaun
ulama, pastor dan para
bayi
sementara umarah
mempertajam pedang dalam
rimba raya
cinta yang dibina telah
menjadi barang ekspor
yang asing dan mahal
harganya
tak ada di swalayan
apalagi warung-warung
kecil
karena nilai-nilai cinta
telah menguap ke rimba
yang lain
saudara sedarah telah
menjadi macan dalam rumah
sendiri
dan rasa kasih itu telah
raib ke rimba yang lain
lagi
o, cinta telah terbeli
dengan pesawat-pesawat
dan kasih telah terjual
dengan tembok-tembok
tinggi
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
DIALOG SESAMA VETERAN
teman seperjuanganku!
simpan saja kenangan kita
di dalam gudang waktu
kemunafikan
karena aku memeliharanya
juga
menyimpannya dalam kamar
gelap ketidak mengertian
akan kuajarkan padamu,
kawan!
bagaimana caranya
menyimpan dusta
menggelar tawa
ketidakadilan
tak perlu lagi kita
saling mengikat
dengan tali merah
kebanggaan
tali putih kebenaran. dan
mengibarkannya
karena aku sudah mampu
mengelabui keadilan
membohongi kebenaran.
membenamkannya dalam
lumpur
kini, bagiku kemunafikkan
adalah
ilmu seluas lautan
dan setinggi langit
bercerobong awan
Yogya-Bengkulu, 1990-1991
Sajak ARIFA'I
LEWAT OMBAK SEMUA
TERCERITA
ketika ombak bercerita
untuk menepi
aku duduk bertolak serta
memandang cemara
berpaling memandang biru
laut dan putih ombak
seraya kugenggam segumpal
air kesadaran
untuk menapak-melangkah
lebih jauh berpetualang
dengan hidup dan seni
dari waktu aku menuduh
berpaling dari nyata
untuk gapai impian
keadaan
yang semakin dekat di
kelopak angan kehidupan
memandang anak-anak
nelayan yang menepi
menarik cadik
kutengadahkan simbah air
hidupku ke langit yang
dalam
memandang batas cakrawala
impian dengan segumpal
asa
pecah buih ombak yang
menjadikan mercusuar
berkedip
namun tak bergeming!
mata-mata nakal melirik
bunga-bunga malam
berserakkan
di bibir pantai, bermain
dengan cemara bersetubuh
dengan angin
menempiaskan segala
bentuk birahi yang
terkandung dalam magma
membuat batasan kesadaran
dari impian yang meraja
sambil melangkah seiring
do'a buat siapa
mencium bau-bau asing di
abad ini, hidung jadi
tersumbat!
Bengkulu, 021990
Sajak ARIFA'I
WAKTU I
hari bertambah
ia sembunyikan debar
rindunya
pada cakrawala yang
tersenyum itu
hari bertambah
ia benamkan cinta pada
samudra
dan ombaknya tanda gelora
hari bertambah
ia selalu membaca
apa saja yang mesti ia
baca
cintanya pada bulan
desiran angin tuhan
adzan maghrib yang
memanggilnya
debar jantungnya sendiri
hari bertambah
bijaknya menerpa siapa
saja
yang berjalan di trotoar
itu
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
JALAN HIDUP
adalah cinta yang
menggerakan tangan untuk
menggapai keadaan
laksana rembulan
tersenyum menyapa malam
dan bunga-bunga itu dan
cinta juga membaptiskan
segala duka hingga pagi
menampar
segala diam dalam
hidupnya dan aku
mencintai malam
dan cinta mengubah diri
dari pejalan malam
menjadi pejalan pagi,
makan pohon hingga ke
akarnya.
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
KERINDUAN
dirahasiakannya kagumnya
pada panas matahari
dan nyata indah dari ia
ungkapkan cinta itu
menuju
pagi atau ke haribaan
dunia malam.
mestikah kita menahan
rindu kita masing-masing
walau dengan kata yang
tak bersahabat lagi
ataukah kita harus
membina saling diam kita
sampai akhirnya kita
mabuk sendiri dengan
keheningan ini
tidak, kita harus bicara!
apa sajalah, tentang
pertengkaran kita kemarin
atau serpihan-serpihan
rindu batin kita
yang kita rentangkan
sepanjang trotoar
mestikah kita menahan
rindu kita masing-masing
walau dengan senyum yang
kita kaburkan definisinya
ataukah kita cukup saling
hening menuju perapian
rindu masing-masing yang
tidak sempat kita filekan
di memori kita
sampai akhirnya kerinduan
itu menjelma musuh
yang setiap saat siap
mengganggu tidur kita
atau cukup kita biarkan
saja, serpihan rindu kita
berjalan sendiri-sendiri
menuju pagi, menuju malam
dan sampai ke muara.
Mari kita tunggu sampai
kelelahan kita berhenti
bicara
kerinduan itu!
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
GERIMIS AIR MATA
di sela dadanya mengalir
air mata
hari ini juga ingin aku
menjadi air mata
menggeliat melingkari
sela dadanya
ah, perempuan itu kemarin
malam baru lahir
mana sempat kuciptakan
berahi tentang perjalanan
malamku
tapi ada baiknya, bila
kupantulkan wajah ini di
cermin
biasa saja. tidak pada
kebringasan juga pada
keramahan
tiba-tiba aku ingin
senggamai ia
tapi bukan karena
berahiku yang kusimpan
lama
telah kubuka kancing
bajunya dua-dua karena
jariku lincah
dan kusingkap lembut
tipis bulu dadanya
menggetarkan malam dan
matahari menangis
ah, tidak!
karena baru kemarin sore
ia telanjang
tak memanggil apa-apa
dari indah bibirnya
dari manis parasnya, ya,
tak memanggil apa-apa
atau aku sudah tak
menyimpan rasa itu lagi.
o, perempuanku yang
dipeluk malam
tidak akan ada matahari
menembus kulit mulusmu
atau asap kendaraan yang
mengotori sumingrah
wajahmu
ya, mungkin malam ini
telah kauciptakan mantra
untuk kausemaikan di
hadapan rumahku
ternyata, aku masih
mencintainya.
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
RINDU BUKIT KALISORO
di balik jalan diamnya
ada nyanyian panjang
untukmu
yang ia lantunkan setiap
malam menjelang tidur
dan pada akhir
nyanyiannya
ia berucap lirih
"ternyata aku masih
mencintaimu"
ia ciptakan jarak yang
jauh antara harapan dan
nyata
sementara hening yang
menerpa menyayat impian
yang ia coba untuk
musnahkan dengan api
unggun Kalisoro
di balik gelagar suaranya
yang menembus bukit-bukit
Kalisoro
ada sentuhan dalam yang
mampu menyibak mata hati
dan intan yang tak muncul
saat kapanpun ia hendaki.
karena dingin telah
membekukan gerhana itu
ia terkulai dan pasrah
pada langit yang
mamayunginya
dan kini kau bermain-main
padanya,
lelaki tegar dalam
langkah cakrawala
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
HANYA TINGGAL KITA BERDUA
telah tak ada siapa-siapa
angin telah kutikam
semalam
pohon-pohon telah tak mau
menjadi saksi
hanya tinggal kita berdua
bara unggunan api pun tak
sangup lagi
membakar dinginnya kau
dinginya aku
ya, hanya tinggal kita
berdua
membenci kesepian
ah, kesunyian itu hanya
kau cipta sendiri
kau bangunkan hening dari
tidur panjangnya
hingga mereka mengurai
kabut
mencipta rentang dengan
perkasa
dan kau bermain-main
dengan matahari
ah, apalah! matahari itu
tetap saja merindu
kurahasiakan pada kabut
Kalisoro
tetap saja mencinta
kusembunyikan pada badai
Kalisoro
waktu akan kembali
kembalikan rindu itu
kembalikan cinta itu
pada matahari
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
LELAKI EMBUN
:bagi seorang Fuad
dinginkan jiwa-jiwa bara
dengan tawamu atau
panasmu
menerpa cinta ikhlas
menyapa nurani kemarau
dan berjalan dengan angin
pagi
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
PADA SUATU MALAM
Malam.
Ya, malam.
Sesuatu yang terjadi
pada malam adalah sesuatu
yang menakutkan
bagiku dan kehidupan
itu sendiri.
Kehidupanmu dan kehidupan
kita.
Ia menjelma sosok yang
mengerikan
dan menikam segala bentuk
kata perlawanan. Bentuk
kasih
yang kurahasiakan di
balik kabut itu
tiba-tiba menerjang
cita-cita
dan impian-impian
terhadapmu.
Ia muncul tanpa permisi.
Tanpa sapa dan tanpa
kesopanan.
Ia datang tiba-tiba,
menabrak cinta yang
kusandarkan pada
pohon-pohon itu.
Pengembaraan batin ini
belum usai.
Berjalan dan berkaca pada
kali hatimu.
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
SEBUAH MALAM I
kuketuk pintu malammu
Kekerdilan sebagai
laki-laki
hanya berangkat dari
keterlepasan hidup dari
wanita
Ia mengalir dengan
indahnya di aliran
darahmu.
Menyapa dengan lembutnya.
Dan di keningnya banyak
menyimpan angan-angan.
Impian-impian yang
tercecer
sejak beberapa sore lalu
terbenam
dalam jiwanya. Ya, dalam
jiwanya.
Solo, 1996
Sajak ARIFA'I
DIAM I
diam ini tidak berarti
berhenti
dari gejolak matahari
menggapai malam
diam ini tidak berarti
mati
dari hasratku mengais
rindu
diam ini tidak berarti
terkapar
dari tembakkan putih dan
hitammu
diam ini lebih arif
dari kata yang
kuhamburkan
diam ini lebih tabah
dari kebingungan yang
tercipta
diam ini lebih indah
dari ketergesahan nurani
menggapai malam
Solo, 1996
Sajak ARIFA'I
PULANGLAH
yayi,
pulanglah ke desa
karena kota bukan tempat
kau bersenda
bukan tempat kau bercinta
dengan alam raya
kota bukanlah alam raya
ia adalah makhluk asing
diciptakan sang zaman
pulanglah ke desa yayi,
ladang menantimu
rembulan merindukanmu
desir angin hendak
menyapamu lagi
pulanglah, yayi,
pulanglah
yayi,
mesti tak kau temu sapa
senyum
karena di kota ia menjadi
barang mewah
pulanglah yayi,
kutakut kau jual juga
cinta kita
seperti kau menjual
bibirmu
juga seperti kau menjual
rokmu dengan jean belel
produk zaman purba
o, yayi, pulanglah
telah sekian ratus tahun
ku menunggu
senyum menyapa indah pagi
saat embun mencinta dini
hari
juga kutunggu sapa
maghrib mengajak kita
berbakti
kepada negeri bukan
kepada ibu tiri.
Solo, 1997
Sajak ARIFA'I
KEMATIAN MENJELANG SENJA
Kematianku menjelang
senja, menunggu mentari
berubah warna hingga aku
mencintai kematian itu.
Dan tubuhku ditaburi
bunga berupa warna. Saat
sebelum itu aku tahu
bunga-bunga sudah tak
berupa. Senja mengirup
udara rasa dalam
kehidupan perempuan itu.
Dan ia bergerhana dengan
lain matahari. Tidak!!
Bukan aku mabuk atau
segala. Tapi itu rasa.
Jadi biarkan saja ia
melalang ke segala arah
mata angin. Menuju
perapian menghangatkan
seluruh tubuh.
Ia tertatih-tatih
menempuh terjal
perjalanan yang saatnya
belum ia tempuh. Ia
bercerita pada rembulan
yang mengintip perjalanan
itu. Adakah arti bagi ia
rembulan itu?
Oh, kucintai ia sepenuh
gelas yang kuisi senja
hari. Saat malam
berkelana aku mencoba
berpaling darinya dan
lelahkan diri mencapai
esok pagi. Esok tiba aku
berdiam dan bersepi hanya
dengan cinta yang
bentuknya semakin tak
kumengerti. Malam
mengadiliku dengan
tanya-tanya yang
memusingkan. Mungkin
siklus itu mengajakku
kembali. Sehingga pedih
yang terasa harus dihapus
dengan pedih pula bagi
siapa. Entahlah. Biarkan
waktu memberi jawab.
Rindu itu semakin erat
mendekap, dan aku luluh
dalam pandangannya.
Kugapai maaf darinya.
Tak!! Tak cukup itu!!
Dilema menjelma neraka
yang manghanguskan
seluruh jiwa.
Solo, 1995
Sajak ARIFA'I
WANITA TELAGA TAK PERNAH
MENGALIR
kebeningan airnya membuat
nuansa pagi semakin ribut
akan angin yang menembak
segala penjuru sukma.
terkapar dalam dekapan
bening itu. Diam
membendung sepi.
Mencintai kebeningan
untuk menyirami bunga
yang telah dipanasi oleh
mentari lain. Bergerhana
di kursi yang kupandang
dengan mata hati. Sedih?
Tak!! Terlalu pagi untuk
menyapa, Selamat malam,
Kinasih!!! Dentum itu
menjadi bunyi paling
akhir untuk menyapa cinta
di pagi buta. dering hati
menyibakan selimut rindu
yang engkau dengkap erat
dengan rasa yang tak
kumengerti.
Kerinduan mendekap
pandangan itu memuncak
pada bening yang tercipta
hingga aku lelah dalam
dekapan sendiri.
Solo, 1995
Sajak ARIFA'I
AKU
aku masih setia dengan
kebingungan ini
walau senja telah
memanggilku keras
mengajak bersenda dengan
malamnya
melupa siang dan segala
peristiwa
karena kata-kata telah
kehabisan tenaga
dan putih sudah tak putih
lagi
aku masih setia dengan
kebingungan ini
karena kau telah mengurai
kain hitam kemarin
dan hari ini kau gelar
kain putih
esok mungkin kau akan
mementaskan lakon
yang semakin mendekatkan
pada kebingungan ini
aku masih setia dengan
kebingungan ini
mungkin cakrawala akan
kugapai
saat rembulan terlena
dengan puisi-puisi
tidak. aku sudah tak
mampu menulis puisi
karena puisi juga telah
mendustaiku
dengan keromantisannya
aku terlupa
bahwa aku masih merasakan
terik mentari
seakan memberi bara dan
menjadi api
Solo, 1996
Sajak ARIFA'I
WAKTU II
menyayangimu selama
mentari
duduk di kursimu
menyinta dengan busana
menuju surga
ya, senja betul-betul
mengajak istirah
dari pelayaran jauh ini
hanya engkau cahaya
saat malam membenciku
keberangkatan dari subuh
menjelang
menuju siang hingga senja
mengajak istirah
biarlah, kembang itu tak
harus kumiliki
atau nanti, entahlah.
yang pasti aku masih
menyinta
ya, aku masih menyinta
oh, dermaga mana lagi
yang harus kusinggahi
lepaskan lelah ini
kemaskan rindu ini
pada laut ?
pada bulan ?
tak. ia masih dibalut
malam
Solo, 1996
Šarifa'i
|