Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

 

Untuk
Tampilan Terbaik Gunakan Browser:

Browser Terbaik untuk Situs Ini
Kasih: Kamar Studi Ilmu Humaniora
Kamar Studi Ilmu Humaniora
Sasindo UNS '92
Album Foto Sasindo UNS '92
Kabar Penting
Link Sasindo Perguruan Tinngi Lain

SAJAK-SAJAK ROMANTIS ARIFA'I 

SAJAK DO'A UNTUK KEKASIH
Oleh Arifa'i

kulumat sebaris ayat-Mu
untuk mengantar kekasih ke medan
pertempuran antara kehidupan nilai-nilai

kulantunkan firman-firman-Mu
untuk kusebarkan ke segenap jiwa
sang kekasih. agar ia tak rasakan panas
tak rasakan dinginnya dingin

ku berlari ke bibir sungai-Mu
untuk membasuh sukma tercemar
biar aku ikhlas dalam memperpanjang
sujud-sujudku. menggelar sajadahku.

Bengkulu, 1999

Sajak ARIFA'I

JALAN ITU JALAN KEMATIAN

saatnya aku mencintai kematian
mengulangi peristiwa malam yang rindu bulan
pagi mengantarkan mimpi hingga sampai ke muara
dan muara menyebarkan cinta itu ke pangkuanku lagi

Ibu,
belum sempat kusampaikan maaf padamu
karena waktu yang sangat membenciku
dan ruang tak memberikan sisanya
kini malam semakin menjadi selimut saat ku istirah
sementara pertobatan belum juga usai kugelar
semakin panjang dan semakin panjang urainya

Ibu,
nyanyian yang kau tuliskan pada telapak tanganku
telah tercemari nafas-nafas waktu
dan pandangan mata setianya telah menjadi api
membakar nurani hingga lebur dan menguap entah kemana

September 1997

Sajak ARIFA'I

SOLILOQUI SENIN PAGI

= kepada hatiku sendiri

ya, dia terlalu manis buatku

tiba-tiba aku ingat Salvador Dhali
pelukis Spanyol yang begitu mencintai istrinya
terlalu sayang baginya untuk senggamai istrinya
terlalu cinta baginya untuk sentuh lentik jemari istrinya
ya, semua terlalu baginya untuk perlakukan istrinya

ku takut akan demikian
kucintai dia biarlah dalam jauh
kukagumi dia biarlah dalam diam
karena kata-kata telah tak mampu mewakilinya
dan lagi tugasku belum selesai
mengembarakan nurani ke cakrawala paling akhir

ya, ia terlalu manis untuk kumiliki
terentang jarak yang mengkelamkan pandangan
dan cinta membutakan mimpi-mimpi yang kubiarkan berkelana

aku yakin waktu akan menguapkan perasaan ini
karena gerhana itu telah kian abadi
tapi mengapa masih saja kusimpan
malam yang mencoba mengkhianati
padahal ia telah mempurbakan pikiran
dan ladang garapanku sejak kemarin

Agustus, 1997

Sajak ARIFA'I

RIMBA RAYA

nafas tubuh-tubuh ini terengah-engah
menahan dentuman para penyanyi di atas panggung luas ini
dan satu-satu tiangnya retak, goyang menggoyang
hingga hampir roboh
karena jiwa di atasnya telah menjadi tong sampang

sementara bau-bau sepatu telah menyebar ke seluruh kota
mencemari gaun-gaun ulama, pastor dan para bayi
sementara umarah mempertajam pedang dalam rimba raya
cinta yang dibina telah menjadi barang ekspor
yang asing dan mahal harganya
tak ada di swalayan apalagi warung-warung kecil
karena nilai-nilai cinta telah menguap ke rimba yang lain

saudara sedarah telah menjadi macan dalam rumah sendiri
dan rasa kasih itu telah raib ke rimba yang lain lagi
o, cinta telah terbeli dengan pesawat-pesawat
dan kasih telah terjual dengan tembok-tembok tinggi

Solo, 1997

Sajak ARIFA'I

DIALOG SESAMA VETERAN

teman seperjuanganku!
simpan saja kenangan kita
di dalam gudang waktu kemunafikan
karena aku memeliharanya juga
menyimpannya dalam kamar gelap ketidak mengertian

akan kuajarkan padamu, kawan!
bagaimana caranya menyimpan dusta
menggelar tawa ketidakadilan

tak perlu lagi kita saling mengikat
dengan tali merah kebanggaan
tali putih kebenaran. dan mengibarkannya
karena aku sudah mampu mengelabui keadilan
membohongi kebenaran. membenamkannya dalam lumpur

kini, bagiku kemunafikkan adalah
ilmu seluas lautan
dan setinggi langit bercerobong awan

Yogya-Bengkulu, 1990-1991

Sajak ARIFA'I

LEWAT OMBAK SEMUA TERCERITA

ketika ombak bercerita untuk menepi
aku duduk bertolak serta memandang cemara
berpaling memandang biru laut dan putih ombak
seraya kugenggam segumpal air kesadaran
untuk menapak-melangkah lebih jauh berpetualang
dengan hidup dan seni dari waktu aku menuduh
berpaling dari nyata untuk gapai impian keadaan
yang semakin dekat di kelopak angan kehidupan

memandang anak-anak nelayan yang menepi menarik cadik
kutengadahkan simbah air hidupku ke langit yang dalam
memandang batas cakrawala impian dengan segumpal asa
pecah buih ombak yang menjadikan mercusuar berkedip
namun tak bergeming!

mata-mata nakal melirik bunga-bunga malam berserakkan
di bibir pantai, bermain dengan cemara bersetubuh dengan angin
menempiaskan segala bentuk birahi yang terkandung dalam magma
membuat batasan kesadaran dari impian yang meraja

sambil melangkah seiring do'a buat siapa
mencium bau-bau asing di abad ini, hidung jadi tersumbat!

Bengkulu, 021990

Sajak ARIFA'I

WAKTU I

hari bertambah
ia sembunyikan debar rindunya
pada cakrawala yang tersenyum itu

hari bertambah
ia benamkan cinta pada samudra
dan ombaknya tanda gelora

hari bertambah
ia selalu membaca
apa saja yang mesti ia baca
cintanya pada bulan
desiran angin tuhan
adzan maghrib yang memanggilnya
debar jantungnya sendiri

hari bertambah
bijaknya menerpa siapa saja
yang berjalan di trotoar itu

Solo, 1997

Sajak ARIFA'I

JALAN HIDUP

adalah cinta yang menggerakan tangan untuk menggapai keadaan
laksana rembulan tersenyum menyapa malam
dan bunga-bunga itu dan cinta juga membaptiskan
segala duka hingga pagi menampar
segala diam dalam hidupnya dan aku mencintai malam
dan cinta mengubah diri dari pejalan malam
menjadi pejalan pagi, makan pohon hingga ke akarnya.

Solo, 1997

Sajak ARIFA'I

KERINDUAN

dirahasiakannya kagumnya pada panas matahari
dan nyata indah dari ia ungkapkan cinta itu menuju
pagi atau ke haribaan dunia malam.
mestikah kita menahan rindu kita masing-masing
walau dengan kata yang tak bersahabat lagi
ataukah kita harus membina saling diam kita
sampai akhirnya kita mabuk sendiri dengan keheningan ini
tidak, kita harus bicara!
apa sajalah, tentang pertengkaran kita kemarin
atau serpihan-serpihan rindu batin kita
yang kita rentangkan sepanjang trotoar

mestikah kita menahan rindu kita masing-masing
walau dengan senyum yang kita kaburkan definisinya
ataukah kita cukup saling hening menuju perapian
rindu masing-masing yang tidak sempat kita filekan di memori kita
sampai akhirnya kerinduan itu menjelma musuh
yang setiap saat siap mengganggu tidur kita
atau cukup kita biarkan saja, serpihan rindu kita
berjalan sendiri-sendiri menuju pagi, menuju malam
dan sampai ke muara.
Mari kita tunggu sampai kelelahan kita berhenti bicara
kerinduan itu!

Solo, 1997

Sajak ARIFA'I

GERIMIS AIR MATA

di sela dadanya mengalir air mata
hari ini juga ingin aku menjadi air mata
menggeliat melingkari sela dadanya
ah, perempuan itu kemarin malam baru lahir
mana sempat kuciptakan berahi tentang perjalanan malamku

tapi ada baiknya, bila kupantulkan wajah ini di cermin
biasa saja. tidak pada kebringasan juga pada keramahan

tiba-tiba aku ingin senggamai ia
tapi bukan karena berahiku yang kusimpan lama
telah kubuka kancing bajunya dua-dua karena jariku lincah
dan kusingkap lembut tipis bulu dadanya
menggetarkan malam dan matahari menangis

ah, tidak!
karena baru kemarin sore ia telanjang
tak memanggil apa-apa dari indah bibirnya
dari manis parasnya, ya, tak memanggil apa-apa
atau aku sudah tak menyimpan rasa itu lagi.

o, perempuanku yang dipeluk malam
tidak akan ada matahari menembus kulit mulusmu
atau asap kendaraan yang mengotori sumingrah wajahmu
ya, mungkin malam ini telah kauciptakan mantra
untuk kausemaikan di hadapan rumahku

ternyata, aku masih mencintainya.

Solo, 1997

Sajak ARIFA'I

RINDU BUKIT KALISORO

di balik jalan diamnya
ada nyanyian panjang untukmu
yang ia lantunkan setiap malam menjelang tidur
dan pada akhir nyanyiannya
ia berucap lirih
"ternyata aku masih mencintaimu"

ia ciptakan jarak yang jauh antara harapan dan nyata
sementara hening yang menerpa menyayat impian
yang ia coba untuk musnahkan dengan api unggun Kalisoro

di balik gelagar suaranya yang menembus bukit-bukit Kalisoro
ada sentuhan dalam yang mampu menyibak mata hati
dan intan yang tak muncul saat kapanpun ia hendaki.
karena dingin telah membekukan gerhana itu
ia terkulai dan pasrah pada langit yang mamayunginya
dan kini kau bermain-main padanya,

lelaki tegar dalam langkah cakrawala

Solo, 1997

Sajak ARIFA'I

HANYA TINGGAL KITA BERDUA

telah tak ada siapa-siapa
angin telah kutikam semalam
pohon-pohon telah tak mau menjadi saksi
hanya tinggal kita berdua
bara unggunan api pun tak sangup lagi
membakar dinginnya kau dinginya aku
ya, hanya tinggal kita berdua
membenci kesepian
ah, kesunyian itu hanya kau cipta sendiri
kau bangunkan hening dari tidur panjangnya
hingga mereka mengurai kabut
mencipta rentang dengan perkasa

dan kau bermain-main dengan matahari
ah, apalah! matahari itu

tetap saja merindu
kurahasiakan pada kabut Kalisoro
tetap saja mencinta
kusembunyikan pada badai Kalisoro

waktu akan kembali
kembalikan rindu itu kembalikan cinta itu
pada matahari

Solo, 1997

Sajak ARIFA'I

LELAKI EMBUN

:bagi seorang Fuad

dinginkan jiwa-jiwa bara
dengan tawamu atau panasmu
menerpa cinta ikhlas
menyapa nurani kemarau
dan berjalan dengan angin pagi

Solo, 1997

Sajak ARIFA'I

PADA SUATU MALAM

Malam.
Ya, malam.
Sesuatu yang terjadi
pada malam adalah sesuatu yang menakutkan
bagiku dan kehidupan
itu sendiri.
Kehidupanmu dan kehidupan kita.
Ia menjelma sosok yang mengerikan
dan menikam segala bentuk
kata perlawanan. Bentuk kasih
yang kurahasiakan di balik kabut itu
tiba-tiba menerjang cita-cita
dan impian-impian terhadapmu.
Ia muncul tanpa permisi.
Tanpa sapa dan tanpa kesopanan.
Ia datang tiba-tiba,
menabrak cinta yang kusandarkan pada pohon-pohon itu.
Pengembaraan batin ini
belum usai.
Berjalan dan berkaca pada kali hatimu.

Solo, 1997

Sajak ARIFA'I

SEBUAH MALAM I

kuketuk pintu malammu
Kekerdilan sebagai laki-laki
hanya berangkat dari keterlepasan hidup dari wanita
Ia mengalir dengan indahnya di aliran darahmu.
Menyapa dengan lembutnya.
Dan di keningnya banyak menyimpan angan-angan.
Impian-impian yang tercecer
sejak beberapa sore lalu terbenam
dalam jiwanya. Ya, dalam jiwanya.

Solo, 1996

Sajak ARIFA'I

DIAM I

diam ini tidak berarti berhenti
dari gejolak matahari menggapai malam

diam ini tidak berarti mati
dari hasratku mengais rindu

diam ini tidak berarti terkapar
dari tembakkan putih dan hitammu

diam ini lebih arif
dari kata yang kuhamburkan

diam ini lebih tabah
dari kebingungan yang tercipta

diam ini lebih indah
dari ketergesahan nurani menggapai malam

Solo, 1996

Sajak ARIFA'I

PULANGLAH

yayi,
pulanglah ke desa
karena kota bukan tempat kau bersenda
bukan tempat kau bercinta dengan alam raya
kota bukanlah alam raya
ia adalah makhluk asing diciptakan sang zaman
pulanglah ke desa yayi,
ladang menantimu
rembulan merindukanmu
desir angin hendak menyapamu lagi
pulanglah, yayi, pulanglah

yayi,
mesti tak kau temu sapa senyum
karena di kota ia menjadi barang mewah
pulanglah yayi,
kutakut kau jual juga cinta kita
seperti kau menjual bibirmu
juga seperti kau menjual rokmu dengan jean belel
produk zaman purba
o, yayi, pulanglah
telah sekian ratus tahun ku menunggu
senyum menyapa indah pagi saat embun mencinta dini hari
juga kutunggu sapa maghrib mengajak kita berbakti
kepada negeri bukan kepada ibu tiri.

Solo, 1997

Sajak ARIFA'I

KEMATIAN MENJELANG SENJA

Kematianku menjelang senja, menunggu mentari berubah warna hingga aku mencintai kematian itu. Dan tubuhku ditaburi bunga berupa warna. Saat sebelum itu aku tahu bunga-bunga sudah tak berupa. Senja mengirup udara rasa dalam kehidupan perempuan itu. Dan ia bergerhana dengan lain matahari. Tidak!! Bukan aku mabuk atau segala. Tapi itu rasa. Jadi biarkan saja ia melalang ke segala arah mata angin. Menuju perapian menghangatkan seluruh tubuh.
Ia tertatih-tatih menempuh terjal perjalanan yang saatnya belum ia tempuh. Ia bercerita pada rembulan yang mengintip perjalanan itu. Adakah arti bagi ia rembulan itu?
Oh, kucintai ia sepenuh gelas yang kuisi senja hari. Saat malam berkelana aku mencoba berpaling darinya dan lelahkan diri mencapai esok pagi. Esok tiba aku berdiam dan bersepi hanya dengan cinta yang bentuknya semakin tak kumengerti. Malam mengadiliku dengan tanya-tanya yang memusingkan. Mungkin siklus itu mengajakku kembali. Sehingga pedih yang terasa harus dihapus dengan pedih pula bagi siapa. Entahlah. Biarkan waktu memberi jawab. Rindu itu semakin erat mendekap, dan aku luluh dalam pandangannya. Kugapai maaf darinya. Tak!! Tak cukup itu!! Dilema menjelma neraka yang manghanguskan seluruh jiwa.

Solo, 1995

Sajak ARIFA'I

WANITA TELAGA TAK PERNAH MENGALIR

kebeningan airnya membuat nuansa pagi semakin ribut akan angin yang menembak segala penjuru sukma. terkapar dalam dekapan bening itu. Diam membendung sepi. Mencintai kebeningan untuk menyirami bunga yang telah dipanasi oleh mentari lain. Bergerhana di kursi yang kupandang dengan mata hati. Sedih? Tak!! Terlalu pagi untuk menyapa, Selamat malam, Kinasih!!! Dentum itu menjadi bunyi paling akhir untuk menyapa cinta di pagi buta. dering hati
menyibakan selimut rindu yang engkau dengkap erat dengan rasa yang tak kumengerti.
Kerinduan mendekap pandangan itu memuncak pada bening yang tercipta hingga aku lelah dalam dekapan sendiri.

Solo, 1995

Sajak ARIFA'I

AKU

aku masih setia dengan kebingungan ini
walau senja telah memanggilku keras
mengajak bersenda dengan malamnya
melupa siang dan segala peristiwa
karena kata-kata telah kehabisan tenaga
dan putih sudah tak putih lagi

aku masih setia dengan kebingungan ini
karena kau telah mengurai kain hitam kemarin
dan hari ini kau gelar kain putih
esok mungkin kau akan mementaskan lakon
yang semakin mendekatkan pada kebingungan ini

aku masih setia dengan kebingungan ini
mungkin cakrawala akan kugapai
saat rembulan terlena dengan puisi-puisi
tidak. aku sudah tak mampu menulis puisi
karena puisi juga telah mendustaiku
dengan keromantisannya aku terlupa
bahwa aku masih merasakan terik mentari
seakan memberi bara dan menjadi api

Solo, 1996

Sajak ARIFA'I

WAKTU II

menyayangimu selama mentari
duduk di kursimu
menyinta dengan busana menuju surga

ya, senja betul-betul mengajak istirah
dari pelayaran jauh ini

hanya engkau cahaya
saat malam membenciku

keberangkatan dari subuh menjelang
menuju siang hingga senja mengajak istirah

biarlah, kembang itu tak harus kumiliki
atau nanti, entahlah.
yang pasti aku masih menyinta
ya, aku masih menyinta

oh, dermaga mana lagi
yang harus kusinggahi
lepaskan lelah ini
kemaskan rindu ini
pada laut ?
pada bulan ?
tak. ia masih dibalut malam

Solo, 1996


Šarifa'i

Hak Cipta Kasih 2000
09 Jun 2000 09:47 PM